Sunday, June 7, 2009

Ingatan Yang Menyembuhkan

Comparative Literary Studies adalah bidang yang sangat luas yang mengaji sastra, dan bentuk seni lain, dengan melintasi batas-batas bangsa dan linguistik, dan dengan tetap memperhatikan konteks sejarah dan kebudayaan dari karya-karya itu. Tulisan ini tak akan menjelajah sejauh itu. Ia hanya mencoba, dengan agak longgar, membandingkan melulu teks dari novel Larung karya Ayu Utami, dan The God of Small Things karya Arundhati Roy.

Kedua novel ini, ditulis oleh perempuan muda yang sama-sama lahir di negeri Asia, boleh dikata luar biasa. Larung, bahkan sebelum muncul di pasar sekian minggu lalu, telah dipesan sebanyak 15.000 eksemplar. Itu prestasi yang fenomenal untuk ukuran Indonesia. The God of Small Things yang terbit 4 tahun lalu, kini telah terjual lebih dari 6 juta eksemplar, dan telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.

Sepele tapi konkret

Yang segera terlihat dari Larung dan The God of Small Things adalah hadirnya hal-hal kecil, benda-benda yang terlalu sepele namun konkret yang dengan kuat membentangkan “suasana”. Bahkan sejak di halaman-halaman awal, sudah terlihat betapa kedua novel ini menjanjikan sejumlah cerita kecil yang dapat berdiri sendiri bagai intan yang terbentuk oleh observasi dan wawasan tajam atas hal-hal yang tampak sepele itu. Di paragraf pertama The God of Small Things tertulis:

May in Ayemenem is a hot, brooding month. The days are long and humid. The river shrinks and black crows gorge on bright mangoes in still, dust green trees. (Mei di Ayemenem adalah bulan yang gerah, bulan yang membuat orang mengingat hal-hal yang sedih. Hari-hari terentang panjang dan lengas. Sungai menyusut dan gagak-gagak hitam … dst). Di halaman lain, tertulis: Ammu, naked now, crouched over Velutha, her mouth on his. He drew her hair around them like a tent. Like her children did, when they wanted to exclude the outside world.

Larung dibuka dengan imaji tentang waktu, dan isyarat tentang kematian. Di halaman 1, misalnya, kita temukan kalimat-kalimat ini. Selalu ada aroma perjalanan pada rel dan subuh. Lampu sisa malam pada tembok muram dan tepi jalan. Kuning, semakin padam oleh langit yang bangkit… Ketika bau hangat matahari telah tercium di timur laut, sebelum warna terangnya terpantul pada atmosfir, burung bence segera menghentikan tur malamnya lalu menyusup ke sebuah ceruk yang tak diketahui cahaya. Dengarlah, kita hanya menangkap sisa-sisa gema triolnya, tinggi dan jauh, lalu hilang dalam dalam warna hitam di balik gedung dan pepohonan. Ada makhluk-makhluk, seperti kelelawar, yang tidak menyukai terang.

Dengan cara bertuturnya; dengan metafor, ritme dan liriknya; dengan “inovasi linguistik”-nya, kedua novel ini menyentuh banyak hal sepele, mengaktifkan imajinasi dan menghidupkan pengalaman kita yang berhubungan bukan hanya dengan hal-hal sepele itu. Mengalami sesuatu, kita tahu, adalah membuka diri bertaut ke dalam bagian-bagian dari alam — sesuatu itu; sengaja atau tidak. Keseluruhan diri — tubuh kita yang mengalami itu, terjun dan tercelup ke dalam apa yang dialami. Kita seakan-akan mengarungi dan menampung berbagai sifat alami sesuatu itu, beberapa di antaranya tertinggal, menetap, lalu perlahan-lahan tenggelam menjadi bagian dari bawahsadar. Pada saat-saat istimewa, apa yang tertinggal itu, menjadi hidup kembali dan berkembang memperkaya khazanah hidup kita, mengangkatnya setingkat lebih tinggi dari sebelumnya.

Ada memang novel yang begitu visual tapi mustahil difilmkan, yang kekuatan literernya sanggup memberi “nyawa” pada benda-benda mati yang disentuhnya. Bersua dengan kekuatan literer semacam ini, beberapa bagian dari diri kita menjadi aktif kembali. Dan kita merasa terpaut dengan sebuah suasana, sebuah ruang waktu yang lain, yang terlupakan, atau yang terbayangkan. Ada sesuatu yang meruah, dan menjadi lebih intensif, dalam diri kita. Ada imajinasi yang hidup, dan ingatan yang menyembuhan kita dari ketumpulan dan ketidakpedulian. Benda-benda kecil konkret yang muncul di sepanjang novel seperti ini, kembali menyelamatkan kita dari dunia yang terlalu disesaki oleh berbagai kata-kata besar, berbagai konsep abstrak, berbagai metafisika yang membuat kita berjarak dari kehidupan yang berdaki dan berpeluh.

Benda-benda konkret itu membantu indra dan tubuh kita menjadi lebih peka, menjadi pegangan kita untuk mengembalikan kewarasan kita di tengah kelimunan peristiwa yang datang dan pergi bertumpang tindih. Tubuh adalah instrumen yang paling peka untuk mengecek kenyataan, indikator akan kekonkretan. Seni tampaknya memang selalu mengukuhkan kembali ikatan batin kita dengan hidup sekitar, dengan masa silam yang hampir sudah, dengan senja yang jingga dan uap tanah sehabis hujan, dsb. Sembari mengukuhkan ikatan batin tersebut, ia menyodorkan satu cara mengetahui dan mendekati kenyataan yang tak dapat diperoleh lewat pengetahuan ilmiah.

Perbedaan yang langsung terlihat antara Larung dan The God of Small Things ada pada kalimat-kalimatnya, dan kontradiksi-kontradiksi yang dihadirkannya. Kalimat Arundhati bisa sekaligus menghadirkan beberapa hal yang saling bertentangan. Misal: She became Baby Kochamma when she was old enough to be an aunt, the terror of war and the horror of peace. Kalimat-kalimat “ajaib” ini cukup jarang kita temukan pada Ayu, walau itu tak berarti tak ada sama sekali. Ayu lebih banyak memaparkan kontradiksi dalam beberapa kalimat, dalam paragraf. Ironi dan kontradiksi yang muncul di The God of Small Things terasa lebih spontan dan segar, sementara di Larung terasa lebih tertata dan terkendali. Kalimat-kalimat Arundhati lebih sarat dengan humor yang lembut menganyutkan, lebih hidup dengan dayacipta linguistik; paragraf-paragraf Ayu lebih liris, lebih surealistis.

Anak-anak dan Sejarah

Tokoh utama The God of Small Things adalah Rahel dan Esthappen, saudara kembar dua telur, “semacam kembar siam yang langka, yang secara fisik terpisah tapi dengan identitas yang bertaut.” Ammu, ibu sang kembar, adalah seorang yang di dalam dirinya terkandung the Unmixable Mix — kelembutan tanpa batas seorang ibu dan amukan tanpa kendali seorang anggota laskar bom bunuh diri. Lalu ada Velutha, si tukang kayu keluarga tersebut, seorang anggota kasta yang tak-boleh-disentuh, yang hanya bisa mengerjakan satu hal untuk satu waktu: jika ia meraba, ia tak mampu bicara; jika ia mencinta, ia tak sanggup pergi meninggalkan; jika ia melawan, ia tak mungkin menang. Dialah The God of Loss, The God of Small Things.

Cerita berawal, sekaligus berakhir, saat Rahel Kochamma kembali ke rumah keluarganya, dan kepada saudara kembarnya. Ia pulang dengan harapan bahwa cinta mereka satu sama lain, dan ingatan-ingatan yang mereka kumpulkan kembali setelah berlalu sekian lama, akan menyembuhkan luka-luka mereka yang begitu dalam. Arundhati menghadirkan Rahel di sebuah panorama ajaib di bulan Juni ketika musim hujan menggelontor propvinsi Kerala, baratdaya India. Kawasan yang tadinya kering itu berubah menjadi kehijauan yang liar dan purba. Batas-batas yang tadinya tegas, membaur tumpang tindih. Tumbuh-tumbuhan liar menjalar naik menerobos tepian laterit dan meruah melintasi jalan-jalan yang tergenang.

Begitu Rahel sampai di rumah keluarganya di Ayemenem, makhluk-makhluk rambat yang busuk keluar menyambutnya. “Tembok-tembok rumah membengkak oleh lembab yang merangkak naik dari tanah. Kebun yang merimbun liar penuh dengan desau dan gegas hewan-hewan ukuran kecil. Di permukaan tanah, seekor ular tikus menggosokkan dirinya ke batu yang berkilauan.” Tetapi, di balik panorama yang lebat liar ini, di balik kesuburan yang tak terjinakkan oleh tangan manusia, dan kematangan hidup yang lebih dekat ke kerusakan itu, ada sesuatu yang membusuk, bagai bangkai: sebuah isyarat tentang apa yang tengah melapuk di sebuah keluarga besar kelas menengah India.

Diceritakan dari sudut pandang kanak-kanak, novel Arundhati bergerak mundur dari Kerala masa kini, ke Kerala pada “a skyblue day in December sixty-nine.” (Tidak. Cerita sebenarnya bergerak mundur sampai ribuan tahun ke belakang, ketika Hukum Cinta ditetapkan: the laws that lay down who should be loved, and how. And how much.) Cerita lalu berpusar pada peristiwa di sekitar kunjungan Sophie Mol, sepupu sang kembar. Ia seorang gadis kecil berdarah campuran India – Inggris yang baru berusia 9 tahun, dan “Loved from the Beginning”. Dua minggu kemudian, Sophie tenggelam di Sungai Ayemenem. Kematiannya meninggalkan sebuah keluarga yang berantakan dan satu rahasia yang sangat menakutkan

Akibat rahasia tersebut, Estha sejak itu berhenti bicara, menarik diri ke dalam dirinya sendiri. Ammu terbuang dari rumahnya dan meninggal dalam nestapa dan kesendirian pada usia 31, a viable die-able age. Rahel dikeluarkan dari sekolahnya, terhanyut oleh nasib yang tak tentu sampai akhirnya menikah dengan seorang Amerika yang kelak ia ceraikan. Cerita kemudian mengalir menyingkap banyak hal, termasuk tentang apa yang akan dilakukan oleh sebuah sistem nilai lama, kadang dengan akibat yang sangat kejam, untuk melindungi diri dari “kelainan-kelainan” yang menganggunya. Selapis demi selapis, tersajilah paparan yang menarik tentang tali-temali kekerabatan India, adat-istiadat dan kebiasaan sosial, pergulatan politik, benturan kultural serta emosi-emosi dan perilaku manusia yang paling universal. Novel yang juga berisi suspens ini, seperti ditulis Felice Aull dari New York University, memaparkan pula paradoks-paradoks yang mekar di sebuah benua tua yang sejarahnya dibongkar dan ditukar untuk selamanya oleh tuan penjajahnya yang perkasa.

Liris dan Mencekam

Selain kenikmatan bahasa, “ketercekaman kognitif” adalah kualitas paling menonjol pada novel-novel Ayu Utami. Pada bagian pertama Larung, ketercekaman itu muncul dalam upaya panjang seorang cucu membunuh dan memotong-motong neneknya. Seorang nenek yang mengajari cucunya mencari pada senja kumbang merah yang muncul dari dalam tanah, yang membukakan arti kekosongan dari segala nilai ataupun harapan, yaitu keadaan di mana tak ada bahasa untuk mengerti. Seorang nenek yang kelak berkata, “Kau bukan cucuku, Larung. Kau adalah anak yang dipungut dari orang tua yang punya keturunan gila. Seperti Karna yang dibuang Kunti dalam suatu nasib sedih, engkau tumbuh sebagai satria yang dihianati. Kau bukan cucuku, karena itu aku mencintaimu.”

Saya menangkap tanda (atau lebih tepat, mengharap) ketercekaman lain yang lebih hebat ketika membaca sepotong kalimat di Larung, sebuah kalimat dengan muatan ontologis yang berat dan menjadi sumber pertengkaran paling seru di ranah filsafat dan agama. Kalimat tersebut adalah bahwa alam tak punya tujuan (hlm. 10). Sayang bahwa kalimat ini tertinggal sebagai kalimat saja, dan cerita Larung tak berhasil menjadi cerita yang dengan meyakinkan memaparkan betapa alam (yakni seluruh alam yang kita kenal) memang tak punya tujuan.

Namun demikian, cerita Larung yang berliku-liku menyusuri masa silam neneknya, sampai ia membongkar dan mengobok-obok tubuh tua yang begitu mencintai kehidupan, tampil demikian mencekam, dengan level yang rasanya belum pernah dicapai oleh novel-novel Indonesia. Kalaupun ada, hanya segelintir sastrawan Indonesia yang mampu menulis semencekam sekaligus seliris Ayu, yang tampaknya adalah sosok paling menonjol di antara semuanya. Bagian pertama Larung yang terentang sepanjang 74 halaman ini, buat saya, tak kalah mendebarkan dari halaman-halaman The God of Small Things yang memenangkan hadiah prestisius The Booker Prize.

Pengalaman “membaca” di bagian pertama Larung, tak lagi saya peroleh di bagian kedua. Bagian yang “bermula dari selangkangan” itu, praktis merupakan lanjutan dari Saman. Bagi pembaca yang telah menamatkan Saman, bagian ini tak lagi mengejutkan. Malah bisa jadi agak mengecewakan. Terutama jika ia mencari kembali sensasi yang dirasakan ketika menikmati pelan-pelan halaman-halaman yang bercerita tentang “keajaiban” di Prabumulih, ketika “Saman masih belum bernama Saman”, ketika ia masih hidup dengan “seorang ibu yang demikian cantik sehingga dicintai bukan hanya oleh manusia”.

Yang lumayan menarik dibagian kedua Larung adalah kian hancurnya stereotype tentang perempuan, dan tentang perselingkuhan. Bagi yang keberatan, cerita syahwat yang memang terasa agak kebanyakan di bagian ini, bisa terbaca sebagai semacam “estetisasi sex” doang. Secara substansial, “perselangkangan” ini tak memberi sumbangan penting bagi perkembangan novel tersebut, kecuali mungkin membentangkan ruang bagi pelampiasan dari sejenis histeria sexual. Cukup banyak paragraf Ayu, lewat narasi tokoh-tokoh perempuannya, yang blak-blakan bahkan terasa obsesif memain-mainkan soal yang satu ini. Begitu banyaknya sehingga rasanya bukan hanya Ayu yang mengaku merasa mual dengannya. Tapi ada juga bagian di mana soal ini di sampaikan Ayu dengan halus dan puitis, misalnya pada salah satu bagian narasi Shakuntala.

“Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut … seperti kepahitan dari tumpukan kekecewaan yang kamu coba sembunyikan … Kupeluk kamu. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. Dan aku tidak pergi. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. Juga ketika bercumbu dengannya. Kini tak kubiarkan kamu menemui lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri.”

Dengan satu dosis tinggi sikap toleran, bagian “perselangkangan” ini bisa membantu kita melihat betapa perselingkuhan bukanlah melulu cerita tentang “lubang yang gatal dan terus-menerus minta digaruk” (frase ini saya kutip dari salah satu bagian Immortality Milan Kundera). Perselingkuhan mungkin adalah “perasaan yang dibiarkan mengalir” (Laila) atau semacam dendam masa silam yang bercampur aduk dengan asrpirasi religius (Yasmin). Di titik ini pengertian tradisional kita tentang perselingkuhan menjadi tak lagi memadai. Pengertian tersebut hanya mewadahi judgement dari pihak luar, bukan suara hati dari yang mengalami.

The God of Small Things juga mengangkat perselingkuhan dalam cinta terlarang yang melanggar garis kasta. Arundhati praktis hanya memerlukan tiga halaman untuk mengambarkan adegan erotis, yang sempat dipersoalkan oleh pengadilan negeri Kerala. Adegan ketika pikiran dibiarkan berhenti, dan rasa takut dibiarkan pergi, dan biologi mengambil alih kendali. Penggambaran yang sangat puitis itu, dengan metafor yang halus, meninggalkan kesan yang lebih mendalam atas absurdnya pengertian tradisional atas perselingkuhan. Dalam The God of Small Things, cinta yang sederhana dan disebut perselingkuhan itu, mengambil korban dua nyawa manusia, dua keindahan dan kemurnian masa kanak-kanak, dan satu generasi masa depan yang dituntut untuk belajar dari sejarah.

Pertemuan yang Lemah

Bagian ketiga novel Ayu yang berlangsung di Laut Selatan, mencoba mempertemukan Larung dan Saman, mempertautkan novel ini dengan kejadian-kejadian politik mutakhir yang sangat penting di Indonesia. Bagian ini adalah bagian yang paling lemah. Beberapa hal, termasuk bertemunya Larung dan Saman, terasa tidak cukup meyakinkan jika dilihat dari keseluruhan cerita yang sudah tersusun sebelumnya. Orang memang bisa mempertanyakan ke-masuk-akal-an plot di bagian ini: bagaimana mungkin Saman, Larung, dan Anson, dan 3 aktivis Solidarlit “mesti” bertemu di Laut Cina Selatan, misalnya? Pertemuan mereka semua bukanlah resiko yang wajar dari apa yang sudah diceritakan sebelumnya.

Jika di bagian sebelumnya, stereotype makin hancur, di bagian ini, stereotype itu malah menonjol kuat. Yang kita temukan adalah gambaran umum tentang tentara korup yang sebenarnya pengecut dan aktivis-muda-kiri yang heroik tapi naif. Tokoh-tokoh baru yang muncul bukan (belum) lagi karakter yang kompleks dan menampik penilaian umum, tapi tokoh-tokoh satu sisi. Untung bahwa gaya bertuturnya yang mirip cerita petualangan ini, dikerjakan cukup baik dan pembaca masih bisa merasakan ketercekaman sampai ke halaman akhir.

Setelah membaca bagian kedua dan ketiga Larung, sulit untuk menghindari kesan bahwa pengarang kita ini sebenarnya kehabisan “bahan”, atau tak punya cukup waktu untuk mengerjakan “bahan”-nya secara tuntas. Karakter-karakter baru yang dimunculkannya sungguh bisa menjadi bahan bagi novel besar lain, andai saja Ayu bersedia untuk bertekun menggarap dan mengembangkannya. Dari sana dapat diharapkan tampilnya teks dengan tokoh-tokoh yang lebih dalam, lebih hidup dan kompleks. Bisa juga dikatakan, pada Larung, ada unsur-unsur luar sastra, katakan saja “feminisme” dan “keterlibatan politik” yang bekerja begitu dominan hingga “merusak” bentuk novel tersebut. Ketaksinambungan antara Larung di bagian awal dengan Larung di bagian akhir, adalah contoh bagus bagaimana Ayu merusak bangunan novel itu, antara lain untuk memamerkan kepiawaiannya bercerita dalam berbagai bentuk, termasuk bentuk petualangan (kemampuan yang memang ditunjukkan dengan sangat baik).

Tetapi, sebuah novel besar tidak diselamatkan oleh kepiawaian bercerita pengarangnya, oleh keinginan besarnya untuk “menyangkal mantra, menyangkal subyek”. Belum lagi jika kepiawaian dan penyangkalan itu dicemari pula dengan keinginan untuk mendidik. Novelis tulen, menulis novel karena apa yang ingin disampaikannya tak bisa cocok dengan bentuk sastra yang lain. Puisi, cerita pendek, naskah drama atau traktat filsafat tak sesuai untuknya. Pengarang seperti ini, yang bertarung melawan sejarah sastranya selain bertarung dengan dirinya sendiri, tidak akan mengulang begitu saja apa yang pernah dituliskannya, tak akan menulis apa yang sanggup dituliskan lebih baik oleh orang lain.

Di bagian kedua Larung, Ayu boleh dikata mereproduksi, dengan kekuatan yang menurun, apa yang sudah dituliskannya di novel Saman. Di bagian ketiga, ia menghadirkan peristiwa-peristiwa politik, lengkap dengan diskusi di sekitarnya. Peristiwa dan diskusi politik ini bisa kita peroleh lebih baik, lebih rinci dan lengkap, di tempat lain. Reproduksi Saman memang membuka ruang untuk “mendidik” para lelaki hidung belang yang dengan naif mengira bahwa hanya kaum berfalus ini yang bisa memperalat dan bereksperimen dengan bermacam lawan jenis sekaligus, untuk merogoh isi hati terdalam sang dewi yang keminter. Di bagian ketiga Larung, “pendidikan” itu mengambil bentuk pada ejekan terhadap perwira tinggi yang mengira dirinya seorang hebat tapi sebenarnya cuma seorang yang memperoleh kedudukannya dengan menipu. “Pendidikan” lain diarahkan kepada para aktivis muda kiri, yang “penuh dengan keinginan berkorban dan ketidaktahuan akan kegagalan atau rasa sakit.”

Anti-Bildungsroman

Novel yang berhasil, mengingatkan saya pada kosmologi, khususnya pada yang menyangkut kondisi awal alam semesta. Sekali kondisi awal itu ditentukan, dengan segala konstanta dan hukum-hukum fisisnya, maka riwayat perkembangan kosmos selanjutnya harus tunduk pada kondisi awal tersebut. Bahkan Sang Pencipta kosmospun harus tunduk pada hukum-hukum yang ditetapkannya pada kondisi awal itu, dan tak dapat mengubah dan merusaknya seenaknya begitu saja di tengah jalan. Saya kira, novel juga seperti itu. Perkembangannya harus tetap tunduk pada “kondisi awal”, katakalah realisme magis, yang dipilih dan ditetapkan oleh penulisnya. Karakternya boleh tumbuh, alur berkembang, dan ceritanya semakin kompleks, tapi “hukum dasar” yang menyusunnya, tetap harus bertahan dan bekerja secara konsisten.

Berangkat dari pertanyaan Nirwan Dewanto di diskusi Larung dan The God of Small Things, di toko buku Aksara, dapatlah dikatakan bahwa, sebuah novel memang bisa berupa fragmen-fragmen, bukan sebuah dunia yang tampak utuh. Sebuah novel sungguh bisa berupa kumpulan cerita saja (bukan sebuah cerita) yang hanya bagian kecilnya saja saling “berhubungan”, menyarankan pertautan “konglomeratis”, bukan pertalian sebab-akibat. Novel Einstein’s Dreams dari Alan Lightman adalah contoh yang baik atas novel jenis ini. Namun, sebagaimana terlihat pada Einstein’s Dreams, fragmen-fragmen novel tersebut, intan-intan yang bisa berdiri sendiri itu, tetaplah harus terletak dalam kerangka hukum dasar yang menyusunnya, dalam “gagasan-literer-besar” yang mengikatnya. Hukum dasar ini harus tetap diingat dalam pertumbuhan novel. Jika dilupakan, hasilnya adalah novel yang gagal menjadi kosmos, atau multi-kosmos, yang kompak dan berkembang penuh dalam dirinya sendiri.

Dibanding dengan Larung, struktur naratif The God of Small Things tersusun lebih bagus dan taat-asas. Struktur itu teranyam bolak-balik antara masa kini dan masa silam, meramalkan tanpa menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang menjelang muncul di masa depan. Isyarat-isyarat yang tersaji di depan, memancing pembaca untuk waspada, tapi tak bisa serta merta yakin pada apa yang disarankan oleh isyarat-isyarat tersebut. Pembaca juga ditarik kembali ke bagian-bagian sebelumnya, begitu cerita tersingkap satu-persatu. Dengan itu pembaca melepas lapis-lapis — dan menjelajahi — makna sepenuhnya dari keseluruhan novel ini.

Sudut pandang kanak-kanak — imajinasi dan keingin-tahuannya, pemahamannya yang lugu dan tak lengkap, ketergantungan dan ketakutannya, tekad untuk mandiri, kerentanan, persahabatan dan rasa iri yang kompetitif, juga ketakjubannya — tak hanya disajikan Arundhati dengan menarik. Sudut pandang ini dipertahankannya terus dari awal hingga akhir. Dan karena Estha dan Rahel tak pernah benar-benar tumbuh dewasa dan sebab itu hidup “di-luar-ruang-waktu” yang umum, The God of Small Things memang bisa dianggap sebagai anti-Bildungsroman, yang digarap dengan inovasi bahasa dan muslihat stylistic yang bagus. Hasilnya adalah sebuah novel yang tak saja menjadi best-seller dunia. Ia juga menjadi pertanda betapa kebudayaan dan tradisi kreatif India memang tetap menggeliat dengan daya hidup yang besar.

Yang pasti, sebagaimana Rahel Kochamma mengenang hal-hal yang indah dari masa silamnya, untuk menyembuhkan lukanya yang dalam, saya pun mengenang bagian-bagian terkuat dari Larung, juga Saman, untuk menawar kejengkelan saya atas “penghianatan-tak-kreatif” yang terjadi pada dua karakter istimewa ini. Memang, halaman-halaman “Pembunuhan Simbah” pada Larung, “Keajaiban di Prabumulih” pada Saman, dan beberapa cerita kecil yang mandiri pada kedua novel tersebut, adalah halaman-halaman yang cukup istimewa dalam khazanah novel Indonesia, dengan mutu yang bisa bersaing dengan halaman-halaman terbaik Arundhati Roy, dengan cahaya yang tak kalah berdenyar dari sepihan kristal-kristal linguistik yang tersimpan dalam kebanyakan novel karya peraih Hadiah Nobel.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Bentara-KOMPAS, Jumat 7 Desember 2001

No comments: