Saturday, March 22, 2008

Sinopsis Sastra


Novel "Saman" (1988)

karya Yustina Ayu Utami

Novel yang bertajuk “Saman” merupakan novel debutan pertama dari Ayu Utami dan menjadi kontroversi dalam sejarah sastra Indonesia karena perihal seks dan sastra. Novel yang dicetak pertama kali pada bulan April 1998 dan sampai tahun sekarang Novel Saman ini sudah mengalami cetakan sampai cetakan ke-24. Saman adalah pemenang sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998. karena karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya, sehingga mengantarkan novel Saman dalam meraih Prince Claus Award pada tahun 2000. Ketika pertama kali terbit, Saman dibayangkan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu yang mulanya berjudul Laila tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan , beberapa sub plot berkembang melampaui rencana.

Ayu Utami mengungkapkan apa yang menjadi awal kenapa dia menulis novel yakni “ Secara tekhnis karena saya tidak mempunyai kesempatan menulis di media lagi secara terbuka karena waktu itu terjadinya pembredelan terhadap pers, jadi saya punya waktu untuk menulis novel, alasan kedua, karena ketidakpuasan saya terhadap eksplorasi bahasa di media massa yang terlalu terbatas karena fitrahnya bicara kepada publik yang luas” tutur ayu. Selain itu karena dorongan dan dukungan teman-temannya di komunitas Utan Kayu, yang menjadi alasan Ayu selanjutnya untuk menulis sebuah karya sastra” (wawancara, 12 Juli 2005).

Adalah Laila dan tiga temannya yakni Sakuntala, Jasmin dan Cok yang awalnya ingin dijadikan tokoh utama dari Novel Laila tidak Mampir di New York atau sekarang judul Novelnya berubah menjadi Saman. Meskipun perubahan peran utama yang awalnya empat tokoh perempuan menjadi Saman ini tidak disadari betul oleh penulisnya. “saya tidak tahu pasti kenapa jadi beralih ke Tokoh Saman, ini hanyalah proses, jadi ketika saya mau menceritakan laki-laki saya menceritakan perempuan begitu juga sebaliknya. Saya selalu melihat sesuatu dari lawannya atau titik yang lain” ujar Ayu menanggapi perubahan dari tokoh utamanya (wawancara, 12 Juli 2005). Tapi novel ini juga tidak kehilangan napasnya dalam mengungkapkan masalah-masalah yang banyak dialami oleh wanita.

Saman merupakan novel yang menceritakan tentang berbagai masalah yang dulu terjadi ketika Saman ini terbit yaitu tahun 1998 saat rezim Soeharto berkuasa dan tahun itu merupakan tahun dimana merupakan jaman Orde Baru dimana kekuasaan yang sewenang-wenang menjadi raja. Saman mampu menangkap carut marut zamannya dan mengisahkannya dengan fasih, bahkan tanpa beban. Dan dalam novel ini juga banyak menggugat banyak hal, bukan sekedar seks, melainkan bila kita membaca dengan jeli yang lebih kental dalam novel itu adalah nuansa politisnya, terutama gugatan terhadap kekuasaan Orde Baru yang militerisme dan segala kekuasaan patriarkis. Dan tahun itu merupakan suatu zaman yang hiruk pikuk dengan peristiwa maupun lalu lintas informasi kultural, sehingga sukar untuk dipahami. Dengan meminjam terminology Mikhail Bakhtin, novel ini mengandung hetroglossia, keragaman , layaknya sebuah karnaval. Novel ini berkisah tentang pemogokan buruh, kolusi pengusaha perkebunan dengan militer local, penyiksaan aktivis, fenomena gaib, sekaligus mempertanyakan iman katolik, dominasi laki-laki atas perempuan, juga seksualitas dan cinta, dibalut bahasa yang indah dan ekploratif.

Pembicaraan tentang seks dijadikan Ayu sebagai wacana pemberontakannya terhadap dominasi dan kesewenang-wenangan laki-laki, wacana disini dimaksudkan Ayu untuk menuntut kesetaraan perempuan yang selama ini dieleminasi oleh kuasa kaum laki-laki. Penentangan terhadap dominasi laki-laki pun tidak luput ayu tuangkan dalam novelnya dimana ayu mengangkat berbagai isu sentral tentang masalah dunia patrialkal yang selama ini banyak merugikan perempuan. Lalu Cinta, politik, dan agama serta perasaan-perasaan yang saling bertaut antar para tokoh digambarkan tanpa rigiditas, tanpa beban, bebas sebebas-bebasnya. Setiap rinci peristiwa dibangun berdasarkan riset yang rigid, keleluasaan dalam menggunakan bahasa kemungkinan dipengaruhi pula oleh pandangan betapa ambigu sesungguhnya moralitas itu. Perselingkuhan, tugas pastoral yang suci, percintaan yang sembunyi-sembunyi, ketidakadilan terhadap kaum yang lemah sampai kesewenang-wenangan militer pada waktu itu tidak didudukkan dalam sebuah kursi moralitas yang hitam dan putih. Sumber : Indomedia.Com

No comments: