Saturday, March 22, 2008

Kajian Sastra


IDEOLOGI NOVELIS AYU UTAMI DALAM PERSPEKTIF FEMINISME ISLAM** (Bagian I)
Oleh: Dina Mardiana, S.Sos
Abstrak

Banyaknya penulis perempuan yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan. Kebebasan berekspresi tersebut tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis. Ayu Utami sebagai novelis perempuan dikatakan sebagai generasi baru sastra Indonesia, yang telah mendobrak serta menerobos mitos-mitos yang cenderung merendahkan atau bahkan menampikkan etika timur. Dengan penolakannya yang tegas terhadap kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas.

Dalam penelitian ini penulis ingin meninjau idologi novelis tersebut dipandang dari persfektif feminisme islam, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, mengekplanasi dan mengkonstruksi ideologi penulis perempuan dalam karya sastranya. Studi kualitatif dengan pendekatan Hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur adalah metode yang digunakan penulis dalam proses penelitian ini. Adapun tekhnik pengumpulan data yaitu lewat studi pustaka, studi dokumentasi dan wawancara mendalam (dept interview).

Sebagai hasil dari kesimpulan penelitian, yaitu adanya gerakan feminisme yang terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan sebagai penuntutan hak asasi perempuan yang terkandung dalam karya sastra novelis perempuan tersebut. pertentangan terhadap dominasi patriarki juga yang membuat wanita ingin dikonstruksi sebagai manusia yang layak menerima peradilan yang seimbang tanpa adanya perbedaan jenis kelamin. Dalam persfektif feminisme tentu saja dari ideologi tersebut, meskipun ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, hubungan sesama jenis, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki

Kebebasan sastra

Demam baru sedang menjangkit kisah dunia sastra di Indonesia. Dapat dikatakan ini terjadi akibat bangkitnya wanita dari keterbelengguannya sejak era Kartini. Dari kacamata sederhana, kebebasan wanita dalam berkarya kini telah menjadi jamur di tengah hujan, dengan banyak penulis-penulis perempuan berbakat yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan.

Tapi terkadang kebebasan berekspresi tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya kesenian atau sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis yang cenderung bermain didalam imajinasi atau gambaran suatu kehidupan yang melampaui wilayah lingkungannnya, dan masuk kedalam gambaran tentang kehidupan dimana dirinya tidak berada dalam geografi yang paling riil (Kompas, 3 April 2005).

Bagian penting dari suatu karya sastra adalah kandungan moral dan etika, di samping parade kekuatan bahasa yang dijadikan simbol. Pendapat bahwa karya sastra adalah suatu entitas tunggal yang mandiri dan bebas merdeka tampaknya perlu diwaspadai, terutama oleh para pelaku utama seni sastra, yakni para penulis atau sastrawan atau sastrawati. Terlepas dari pandangan peneliti Jerman, Wolfgang Iser, bahwa sastra harus dinilai bukan hanya berdasarkan bentukan tulisan itu semata, melainkan juga harus diperhatikan pengaruhnya bagi konsumen, idealnya para pelaku sastra Indonesia bisa lebih arif melihat kondisi bangsanya sendiri.

Karya-karya sastra biasanya menjelma hampir di semua pembatasan etika kodratnya sebagai perempuan dengan mengatasnamakan kepentingan kaumnya, perempuan itu menuangkan ideologi mereka sebagai bentuk pemberontakan hatinya di tengah sikap ketertindasan sesama kaumnya yang selama ini menjadi euphoria di Indonesia. Karya sastra mereka berperan di masyarakat sebagai pemapanan bagaimana degradasi moral, bagaimana ide feminisme teriritasi.

Sisi feminismepun ditonjolkan dan dinobatkan sebagai acuan primer oleh para novelis perempuan seperti dengan keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Melalui perlawanan terhadap tabu ini, mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan, terutama dalam hal seks.

Pada zaman sebelum islam, kaum wanita selalu dibawah kezaliman pria, diperjualbelikan laksana binatang dan barang, tidak memperoleh hak-hak menurut undang-undang dan tidak dapat kedudukan dalam masyarakat sebagaimana yang sewajarnya diberikan kepada mereka dan seharusnyadiakui oleh masyarakat. Dalam Islampun feminisme tidak hanya diartikan sebagai sebuah sudut pandang (perspektif) yang memiliki akar sejarah yang berbeda-beda melainkan telah menjadi gerakan dalam sejarah itu sendiri. Ajaran Islampun sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk mengoptimalisasikan peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT.

Dengan demikian bentuk-bentuk gerakan perempuan tersebut diatas, terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan. Wanita disimbolkan sebagai Megaloman, Hera atau Xena yang mempunyai kekuatan yang sama bahkan lebih dibandingkan dengan laki-laki. Dan salah satu wilayah dunia simbolik yang sekaligus menjadi sarana strategi yakni lewat bahasa. Kuncinya adalah bagaimana melihat ideologi itu sebagai pertautan berbagai kepentingan individu atau kelompok dominan yang berbenturan. Dengan demikian, kerja ideologi lewat bahasa itu dipastikan akan menelurkan makna-makna baru yang tentunya berguna bagi dunia sastra dan masyarakat. Dalam feminisme islam sendiripun masih tetap mencari formulai (kosakata) yang simbol dan pemaknaannya lebih islami daripada produk Barat.
Tinjauan hermeneutika
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika, hermeneutika disini seperti yang dijelaskan Irfan Safrudin dan H.A Hasan Ridwan dalam wawancaranya dengan penulis, mengartikan hermeneutika sebagai interpretasi terhadap ideologi novelis perempuan dalam karya sastranya. Teori heremeneutika dari Paul Ricoeur adalah pendekatan yang dipakai penulis dimana Paul Ricoeur menguraikan tentang hermeneutika mendalam dalam tiga tahapan, yang terdiri dari pertama adalah level semantik bahwa bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontologi, oleh sebab itu kajiannya tidak dapat terlepas dari struktur bahasa dan kebahasaan yang tercakup dalam simbolisme. Kedua adalah level refleksi yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada level filosofis. Proses ini dapat dilakukan melalui proses ulang balik antara pemahaman teks dengan pemahaman diri dan berlangsung seperti hermeneutika cycle yang telah penulis jelaskan. Tahap terakhir adalah level eksistensial, dalam tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna, bagi manusia ternyata berakar dari dorongan-dorongan yang bersifat instingtif.
Dengan pisau analisis diatas, penulis berharap penelitian ini bisa mendalam dan kritis. Adapun pelaksanaan penelitian ini secara garis besar terdiri dari 3 tahap, yaitu:”tahap orientasi, eksplorasi dan membercheck” (Nasution,2003:31-36). Proses pengumpulan data sendiri dilakukan dengan jalan studi pustaka, studi dokumentasi juga wawancara mendalam (dept interview).

Untuk membantu pengkajian penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma kualitatif yang multi paradigma, dimana penulis menggunakan beberapa teori untuk menemukan paradigma baru. Selain menggunakan teori hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur juga dilengkapi dengan berbagai perspektif teorikal diantaranya yaitu teori kritis, teori tripartit komunikasi massa dll. (Bersambung ke Bagian 2)


No comments: