Friday, August 27, 2010

NADIR YANG LEPAS

untukmu
lepaslah raga mengarungi nyawa
meninggalkan sisa tanya dalam beribu duka
bersua Tuhan menyapa dengan salam
mengantarkan amal menghitung peradilan

untukmu
yang selalu hadir dalam inci waktuku
yang tidak bosan mengeja kata agar aku percaya
bahwa hadirmu begitu bermakna dalam jiwa

untukmu
yang selalu mengingatkanku
bahwa sewindu kau telah hadir dalam nadirku
tak habis kata bergelora ucapmu
dan percaya tidak pernah hadir di jiwaku

untukmu
ternyata Tuhan lebih memilih untuk menjagamu
menemani semua mimpi dan anganmu
untuk selalu menjagaku

untukmu
maaf maaf maaf..
belum sempat kucandai rasamu

Monday, June 8, 2009

BLUPARTANIA

Berjelebub Blupartania
Adalah awan yang merahasiakan gundah
Dengan keniscayaan menduga-duga waktu
Dipinggiran senja diujungnya yang paling sunyi
Disini berjelebubnya?
Tiada jawaban pula tapi mendera
Menghadirkan berlaksa-laksa Tanya
Dan Blupartania?
Adalah aku yangselalu menikam bintang
Dibagan laut cina selatan
Yang mengangkat jarring
Berharap cahaya tertangkap

By.Frino BC

Sunday, June 7, 2009

Ingatan Yang Menyembuhkan

Comparative Literary Studies adalah bidang yang sangat luas yang mengaji sastra, dan bentuk seni lain, dengan melintasi batas-batas bangsa dan linguistik, dan dengan tetap memperhatikan konteks sejarah dan kebudayaan dari karya-karya itu. Tulisan ini tak akan menjelajah sejauh itu. Ia hanya mencoba, dengan agak longgar, membandingkan melulu teks dari novel Larung karya Ayu Utami, dan The God of Small Things karya Arundhati Roy.

Kedua novel ini, ditulis oleh perempuan muda yang sama-sama lahir di negeri Asia, boleh dikata luar biasa. Larung, bahkan sebelum muncul di pasar sekian minggu lalu, telah dipesan sebanyak 15.000 eksemplar. Itu prestasi yang fenomenal untuk ukuran Indonesia. The God of Small Things yang terbit 4 tahun lalu, kini telah terjual lebih dari 6 juta eksemplar, dan telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.

Sepele tapi konkret

Yang segera terlihat dari Larung dan The God of Small Things adalah hadirnya hal-hal kecil, benda-benda yang terlalu sepele namun konkret yang dengan kuat membentangkan “suasana”. Bahkan sejak di halaman-halaman awal, sudah terlihat betapa kedua novel ini menjanjikan sejumlah cerita kecil yang dapat berdiri sendiri bagai intan yang terbentuk oleh observasi dan wawasan tajam atas hal-hal yang tampak sepele itu. Di paragraf pertama The God of Small Things tertulis:

May in Ayemenem is a hot, brooding month. The days are long and humid. The river shrinks and black crows gorge on bright mangoes in still, dust green trees. (Mei di Ayemenem adalah bulan yang gerah, bulan yang membuat orang mengingat hal-hal yang sedih. Hari-hari terentang panjang dan lengas. Sungai menyusut dan gagak-gagak hitam … dst). Di halaman lain, tertulis: Ammu, naked now, crouched over Velutha, her mouth on his. He drew her hair around them like a tent. Like her children did, when they wanted to exclude the outside world.

Larung dibuka dengan imaji tentang waktu, dan isyarat tentang kematian. Di halaman 1, misalnya, kita temukan kalimat-kalimat ini. Selalu ada aroma perjalanan pada rel dan subuh. Lampu sisa malam pada tembok muram dan tepi jalan. Kuning, semakin padam oleh langit yang bangkit… Ketika bau hangat matahari telah tercium di timur laut, sebelum warna terangnya terpantul pada atmosfir, burung bence segera menghentikan tur malamnya lalu menyusup ke sebuah ceruk yang tak diketahui cahaya. Dengarlah, kita hanya menangkap sisa-sisa gema triolnya, tinggi dan jauh, lalu hilang dalam dalam warna hitam di balik gedung dan pepohonan. Ada makhluk-makhluk, seperti kelelawar, yang tidak menyukai terang.

Dengan cara bertuturnya; dengan metafor, ritme dan liriknya; dengan “inovasi linguistik”-nya, kedua novel ini menyentuh banyak hal sepele, mengaktifkan imajinasi dan menghidupkan pengalaman kita yang berhubungan bukan hanya dengan hal-hal sepele itu. Mengalami sesuatu, kita tahu, adalah membuka diri bertaut ke dalam bagian-bagian dari alam — sesuatu itu; sengaja atau tidak. Keseluruhan diri — tubuh kita yang mengalami itu, terjun dan tercelup ke dalam apa yang dialami. Kita seakan-akan mengarungi dan menampung berbagai sifat alami sesuatu itu, beberapa di antaranya tertinggal, menetap, lalu perlahan-lahan tenggelam menjadi bagian dari bawahsadar. Pada saat-saat istimewa, apa yang tertinggal itu, menjadi hidup kembali dan berkembang memperkaya khazanah hidup kita, mengangkatnya setingkat lebih tinggi dari sebelumnya.

Ada memang novel yang begitu visual tapi mustahil difilmkan, yang kekuatan literernya sanggup memberi “nyawa” pada benda-benda mati yang disentuhnya. Bersua dengan kekuatan literer semacam ini, beberapa bagian dari diri kita menjadi aktif kembali. Dan kita merasa terpaut dengan sebuah suasana, sebuah ruang waktu yang lain, yang terlupakan, atau yang terbayangkan. Ada sesuatu yang meruah, dan menjadi lebih intensif, dalam diri kita. Ada imajinasi yang hidup, dan ingatan yang menyembuhan kita dari ketumpulan dan ketidakpedulian. Benda-benda kecil konkret yang muncul di sepanjang novel seperti ini, kembali menyelamatkan kita dari dunia yang terlalu disesaki oleh berbagai kata-kata besar, berbagai konsep abstrak, berbagai metafisika yang membuat kita berjarak dari kehidupan yang berdaki dan berpeluh.

Benda-benda konkret itu membantu indra dan tubuh kita menjadi lebih peka, menjadi pegangan kita untuk mengembalikan kewarasan kita di tengah kelimunan peristiwa yang datang dan pergi bertumpang tindih. Tubuh adalah instrumen yang paling peka untuk mengecek kenyataan, indikator akan kekonkretan. Seni tampaknya memang selalu mengukuhkan kembali ikatan batin kita dengan hidup sekitar, dengan masa silam yang hampir sudah, dengan senja yang jingga dan uap tanah sehabis hujan, dsb. Sembari mengukuhkan ikatan batin tersebut, ia menyodorkan satu cara mengetahui dan mendekati kenyataan yang tak dapat diperoleh lewat pengetahuan ilmiah.

Perbedaan yang langsung terlihat antara Larung dan The God of Small Things ada pada kalimat-kalimatnya, dan kontradiksi-kontradiksi yang dihadirkannya. Kalimat Arundhati bisa sekaligus menghadirkan beberapa hal yang saling bertentangan. Misal: She became Baby Kochamma when she was old enough to be an aunt, the terror of war and the horror of peace. Kalimat-kalimat “ajaib” ini cukup jarang kita temukan pada Ayu, walau itu tak berarti tak ada sama sekali. Ayu lebih banyak memaparkan kontradiksi dalam beberapa kalimat, dalam paragraf. Ironi dan kontradiksi yang muncul di The God of Small Things terasa lebih spontan dan segar, sementara di Larung terasa lebih tertata dan terkendali. Kalimat-kalimat Arundhati lebih sarat dengan humor yang lembut menganyutkan, lebih hidup dengan dayacipta linguistik; paragraf-paragraf Ayu lebih liris, lebih surealistis.

Anak-anak dan Sejarah

Tokoh utama The God of Small Things adalah Rahel dan Esthappen, saudara kembar dua telur, “semacam kembar siam yang langka, yang secara fisik terpisah tapi dengan identitas yang bertaut.” Ammu, ibu sang kembar, adalah seorang yang di dalam dirinya terkandung the Unmixable Mix — kelembutan tanpa batas seorang ibu dan amukan tanpa kendali seorang anggota laskar bom bunuh diri. Lalu ada Velutha, si tukang kayu keluarga tersebut, seorang anggota kasta yang tak-boleh-disentuh, yang hanya bisa mengerjakan satu hal untuk satu waktu: jika ia meraba, ia tak mampu bicara; jika ia mencinta, ia tak sanggup pergi meninggalkan; jika ia melawan, ia tak mungkin menang. Dialah The God of Loss, The God of Small Things.

Cerita berawal, sekaligus berakhir, saat Rahel Kochamma kembali ke rumah keluarganya, dan kepada saudara kembarnya. Ia pulang dengan harapan bahwa cinta mereka satu sama lain, dan ingatan-ingatan yang mereka kumpulkan kembali setelah berlalu sekian lama, akan menyembuhkan luka-luka mereka yang begitu dalam. Arundhati menghadirkan Rahel di sebuah panorama ajaib di bulan Juni ketika musim hujan menggelontor propvinsi Kerala, baratdaya India. Kawasan yang tadinya kering itu berubah menjadi kehijauan yang liar dan purba. Batas-batas yang tadinya tegas, membaur tumpang tindih. Tumbuh-tumbuhan liar menjalar naik menerobos tepian laterit dan meruah melintasi jalan-jalan yang tergenang.

Begitu Rahel sampai di rumah keluarganya di Ayemenem, makhluk-makhluk rambat yang busuk keluar menyambutnya. “Tembok-tembok rumah membengkak oleh lembab yang merangkak naik dari tanah. Kebun yang merimbun liar penuh dengan desau dan gegas hewan-hewan ukuran kecil. Di permukaan tanah, seekor ular tikus menggosokkan dirinya ke batu yang berkilauan.” Tetapi, di balik panorama yang lebat liar ini, di balik kesuburan yang tak terjinakkan oleh tangan manusia, dan kematangan hidup yang lebih dekat ke kerusakan itu, ada sesuatu yang membusuk, bagai bangkai: sebuah isyarat tentang apa yang tengah melapuk di sebuah keluarga besar kelas menengah India.

Diceritakan dari sudut pandang kanak-kanak, novel Arundhati bergerak mundur dari Kerala masa kini, ke Kerala pada “a skyblue day in December sixty-nine.” (Tidak. Cerita sebenarnya bergerak mundur sampai ribuan tahun ke belakang, ketika Hukum Cinta ditetapkan: the laws that lay down who should be loved, and how. And how much.) Cerita lalu berpusar pada peristiwa di sekitar kunjungan Sophie Mol, sepupu sang kembar. Ia seorang gadis kecil berdarah campuran India – Inggris yang baru berusia 9 tahun, dan “Loved from the Beginning”. Dua minggu kemudian, Sophie tenggelam di Sungai Ayemenem. Kematiannya meninggalkan sebuah keluarga yang berantakan dan satu rahasia yang sangat menakutkan

Akibat rahasia tersebut, Estha sejak itu berhenti bicara, menarik diri ke dalam dirinya sendiri. Ammu terbuang dari rumahnya dan meninggal dalam nestapa dan kesendirian pada usia 31, a viable die-able age. Rahel dikeluarkan dari sekolahnya, terhanyut oleh nasib yang tak tentu sampai akhirnya menikah dengan seorang Amerika yang kelak ia ceraikan. Cerita kemudian mengalir menyingkap banyak hal, termasuk tentang apa yang akan dilakukan oleh sebuah sistem nilai lama, kadang dengan akibat yang sangat kejam, untuk melindungi diri dari “kelainan-kelainan” yang menganggunya. Selapis demi selapis, tersajilah paparan yang menarik tentang tali-temali kekerabatan India, adat-istiadat dan kebiasaan sosial, pergulatan politik, benturan kultural serta emosi-emosi dan perilaku manusia yang paling universal. Novel yang juga berisi suspens ini, seperti ditulis Felice Aull dari New York University, memaparkan pula paradoks-paradoks yang mekar di sebuah benua tua yang sejarahnya dibongkar dan ditukar untuk selamanya oleh tuan penjajahnya yang perkasa.

Liris dan Mencekam

Selain kenikmatan bahasa, “ketercekaman kognitif” adalah kualitas paling menonjol pada novel-novel Ayu Utami. Pada bagian pertama Larung, ketercekaman itu muncul dalam upaya panjang seorang cucu membunuh dan memotong-motong neneknya. Seorang nenek yang mengajari cucunya mencari pada senja kumbang merah yang muncul dari dalam tanah, yang membukakan arti kekosongan dari segala nilai ataupun harapan, yaitu keadaan di mana tak ada bahasa untuk mengerti. Seorang nenek yang kelak berkata, “Kau bukan cucuku, Larung. Kau adalah anak yang dipungut dari orang tua yang punya keturunan gila. Seperti Karna yang dibuang Kunti dalam suatu nasib sedih, engkau tumbuh sebagai satria yang dihianati. Kau bukan cucuku, karena itu aku mencintaimu.”

Saya menangkap tanda (atau lebih tepat, mengharap) ketercekaman lain yang lebih hebat ketika membaca sepotong kalimat di Larung, sebuah kalimat dengan muatan ontologis yang berat dan menjadi sumber pertengkaran paling seru di ranah filsafat dan agama. Kalimat tersebut adalah bahwa alam tak punya tujuan (hlm. 10). Sayang bahwa kalimat ini tertinggal sebagai kalimat saja, dan cerita Larung tak berhasil menjadi cerita yang dengan meyakinkan memaparkan betapa alam (yakni seluruh alam yang kita kenal) memang tak punya tujuan.

Namun demikian, cerita Larung yang berliku-liku menyusuri masa silam neneknya, sampai ia membongkar dan mengobok-obok tubuh tua yang begitu mencintai kehidupan, tampil demikian mencekam, dengan level yang rasanya belum pernah dicapai oleh novel-novel Indonesia. Kalaupun ada, hanya segelintir sastrawan Indonesia yang mampu menulis semencekam sekaligus seliris Ayu, yang tampaknya adalah sosok paling menonjol di antara semuanya. Bagian pertama Larung yang terentang sepanjang 74 halaman ini, buat saya, tak kalah mendebarkan dari halaman-halaman The God of Small Things yang memenangkan hadiah prestisius The Booker Prize.

Pengalaman “membaca” di bagian pertama Larung, tak lagi saya peroleh di bagian kedua. Bagian yang “bermula dari selangkangan” itu, praktis merupakan lanjutan dari Saman. Bagi pembaca yang telah menamatkan Saman, bagian ini tak lagi mengejutkan. Malah bisa jadi agak mengecewakan. Terutama jika ia mencari kembali sensasi yang dirasakan ketika menikmati pelan-pelan halaman-halaman yang bercerita tentang “keajaiban” di Prabumulih, ketika “Saman masih belum bernama Saman”, ketika ia masih hidup dengan “seorang ibu yang demikian cantik sehingga dicintai bukan hanya oleh manusia”.

Yang lumayan menarik dibagian kedua Larung adalah kian hancurnya stereotype tentang perempuan, dan tentang perselingkuhan. Bagi yang keberatan, cerita syahwat yang memang terasa agak kebanyakan di bagian ini, bisa terbaca sebagai semacam “estetisasi sex” doang. Secara substansial, “perselangkangan” ini tak memberi sumbangan penting bagi perkembangan novel tersebut, kecuali mungkin membentangkan ruang bagi pelampiasan dari sejenis histeria sexual. Cukup banyak paragraf Ayu, lewat narasi tokoh-tokoh perempuannya, yang blak-blakan bahkan terasa obsesif memain-mainkan soal yang satu ini. Begitu banyaknya sehingga rasanya bukan hanya Ayu yang mengaku merasa mual dengannya. Tapi ada juga bagian di mana soal ini di sampaikan Ayu dengan halus dan puitis, misalnya pada salah satu bagian narasi Shakuntala.

“Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut … seperti kepahitan dari tumpukan kekecewaan yang kamu coba sembunyikan … Kupeluk kamu. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. Dan aku tidak pergi. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. Juga ketika bercumbu dengannya. Kini tak kubiarkan kamu menemui lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri.”

Dengan satu dosis tinggi sikap toleran, bagian “perselangkangan” ini bisa membantu kita melihat betapa perselingkuhan bukanlah melulu cerita tentang “lubang yang gatal dan terus-menerus minta digaruk” (frase ini saya kutip dari salah satu bagian Immortality Milan Kundera). Perselingkuhan mungkin adalah “perasaan yang dibiarkan mengalir” (Laila) atau semacam dendam masa silam yang bercampur aduk dengan asrpirasi religius (Yasmin). Di titik ini pengertian tradisional kita tentang perselingkuhan menjadi tak lagi memadai. Pengertian tersebut hanya mewadahi judgement dari pihak luar, bukan suara hati dari yang mengalami.

The God of Small Things juga mengangkat perselingkuhan dalam cinta terlarang yang melanggar garis kasta. Arundhati praktis hanya memerlukan tiga halaman untuk mengambarkan adegan erotis, yang sempat dipersoalkan oleh pengadilan negeri Kerala. Adegan ketika pikiran dibiarkan berhenti, dan rasa takut dibiarkan pergi, dan biologi mengambil alih kendali. Penggambaran yang sangat puitis itu, dengan metafor yang halus, meninggalkan kesan yang lebih mendalam atas absurdnya pengertian tradisional atas perselingkuhan. Dalam The God of Small Things, cinta yang sederhana dan disebut perselingkuhan itu, mengambil korban dua nyawa manusia, dua keindahan dan kemurnian masa kanak-kanak, dan satu generasi masa depan yang dituntut untuk belajar dari sejarah.

Pertemuan yang Lemah

Bagian ketiga novel Ayu yang berlangsung di Laut Selatan, mencoba mempertemukan Larung dan Saman, mempertautkan novel ini dengan kejadian-kejadian politik mutakhir yang sangat penting di Indonesia. Bagian ini adalah bagian yang paling lemah. Beberapa hal, termasuk bertemunya Larung dan Saman, terasa tidak cukup meyakinkan jika dilihat dari keseluruhan cerita yang sudah tersusun sebelumnya. Orang memang bisa mempertanyakan ke-masuk-akal-an plot di bagian ini: bagaimana mungkin Saman, Larung, dan Anson, dan 3 aktivis Solidarlit “mesti” bertemu di Laut Cina Selatan, misalnya? Pertemuan mereka semua bukanlah resiko yang wajar dari apa yang sudah diceritakan sebelumnya.

Jika di bagian sebelumnya, stereotype makin hancur, di bagian ini, stereotype itu malah menonjol kuat. Yang kita temukan adalah gambaran umum tentang tentara korup yang sebenarnya pengecut dan aktivis-muda-kiri yang heroik tapi naif. Tokoh-tokoh baru yang muncul bukan (belum) lagi karakter yang kompleks dan menampik penilaian umum, tapi tokoh-tokoh satu sisi. Untung bahwa gaya bertuturnya yang mirip cerita petualangan ini, dikerjakan cukup baik dan pembaca masih bisa merasakan ketercekaman sampai ke halaman akhir.

Setelah membaca bagian kedua dan ketiga Larung, sulit untuk menghindari kesan bahwa pengarang kita ini sebenarnya kehabisan “bahan”, atau tak punya cukup waktu untuk mengerjakan “bahan”-nya secara tuntas. Karakter-karakter baru yang dimunculkannya sungguh bisa menjadi bahan bagi novel besar lain, andai saja Ayu bersedia untuk bertekun menggarap dan mengembangkannya. Dari sana dapat diharapkan tampilnya teks dengan tokoh-tokoh yang lebih dalam, lebih hidup dan kompleks. Bisa juga dikatakan, pada Larung, ada unsur-unsur luar sastra, katakan saja “feminisme” dan “keterlibatan politik” yang bekerja begitu dominan hingga “merusak” bentuk novel tersebut. Ketaksinambungan antara Larung di bagian awal dengan Larung di bagian akhir, adalah contoh bagus bagaimana Ayu merusak bangunan novel itu, antara lain untuk memamerkan kepiawaiannya bercerita dalam berbagai bentuk, termasuk bentuk petualangan (kemampuan yang memang ditunjukkan dengan sangat baik).

Tetapi, sebuah novel besar tidak diselamatkan oleh kepiawaian bercerita pengarangnya, oleh keinginan besarnya untuk “menyangkal mantra, menyangkal subyek”. Belum lagi jika kepiawaian dan penyangkalan itu dicemari pula dengan keinginan untuk mendidik. Novelis tulen, menulis novel karena apa yang ingin disampaikannya tak bisa cocok dengan bentuk sastra yang lain. Puisi, cerita pendek, naskah drama atau traktat filsafat tak sesuai untuknya. Pengarang seperti ini, yang bertarung melawan sejarah sastranya selain bertarung dengan dirinya sendiri, tidak akan mengulang begitu saja apa yang pernah dituliskannya, tak akan menulis apa yang sanggup dituliskan lebih baik oleh orang lain.

Di bagian kedua Larung, Ayu boleh dikata mereproduksi, dengan kekuatan yang menurun, apa yang sudah dituliskannya di novel Saman. Di bagian ketiga, ia menghadirkan peristiwa-peristiwa politik, lengkap dengan diskusi di sekitarnya. Peristiwa dan diskusi politik ini bisa kita peroleh lebih baik, lebih rinci dan lengkap, di tempat lain. Reproduksi Saman memang membuka ruang untuk “mendidik” para lelaki hidung belang yang dengan naif mengira bahwa hanya kaum berfalus ini yang bisa memperalat dan bereksperimen dengan bermacam lawan jenis sekaligus, untuk merogoh isi hati terdalam sang dewi yang keminter. Di bagian ketiga Larung, “pendidikan” itu mengambil bentuk pada ejekan terhadap perwira tinggi yang mengira dirinya seorang hebat tapi sebenarnya cuma seorang yang memperoleh kedudukannya dengan menipu. “Pendidikan” lain diarahkan kepada para aktivis muda kiri, yang “penuh dengan keinginan berkorban dan ketidaktahuan akan kegagalan atau rasa sakit.”

Anti-Bildungsroman

Novel yang berhasil, mengingatkan saya pada kosmologi, khususnya pada yang menyangkut kondisi awal alam semesta. Sekali kondisi awal itu ditentukan, dengan segala konstanta dan hukum-hukum fisisnya, maka riwayat perkembangan kosmos selanjutnya harus tunduk pada kondisi awal tersebut. Bahkan Sang Pencipta kosmospun harus tunduk pada hukum-hukum yang ditetapkannya pada kondisi awal itu, dan tak dapat mengubah dan merusaknya seenaknya begitu saja di tengah jalan. Saya kira, novel juga seperti itu. Perkembangannya harus tetap tunduk pada “kondisi awal”, katakalah realisme magis, yang dipilih dan ditetapkan oleh penulisnya. Karakternya boleh tumbuh, alur berkembang, dan ceritanya semakin kompleks, tapi “hukum dasar” yang menyusunnya, tetap harus bertahan dan bekerja secara konsisten.

Berangkat dari pertanyaan Nirwan Dewanto di diskusi Larung dan The God of Small Things, di toko buku Aksara, dapatlah dikatakan bahwa, sebuah novel memang bisa berupa fragmen-fragmen, bukan sebuah dunia yang tampak utuh. Sebuah novel sungguh bisa berupa kumpulan cerita saja (bukan sebuah cerita) yang hanya bagian kecilnya saja saling “berhubungan”, menyarankan pertautan “konglomeratis”, bukan pertalian sebab-akibat. Novel Einstein’s Dreams dari Alan Lightman adalah contoh yang baik atas novel jenis ini. Namun, sebagaimana terlihat pada Einstein’s Dreams, fragmen-fragmen novel tersebut, intan-intan yang bisa berdiri sendiri itu, tetaplah harus terletak dalam kerangka hukum dasar yang menyusunnya, dalam “gagasan-literer-besar” yang mengikatnya. Hukum dasar ini harus tetap diingat dalam pertumbuhan novel. Jika dilupakan, hasilnya adalah novel yang gagal menjadi kosmos, atau multi-kosmos, yang kompak dan berkembang penuh dalam dirinya sendiri.

Dibanding dengan Larung, struktur naratif The God of Small Things tersusun lebih bagus dan taat-asas. Struktur itu teranyam bolak-balik antara masa kini dan masa silam, meramalkan tanpa menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang menjelang muncul di masa depan. Isyarat-isyarat yang tersaji di depan, memancing pembaca untuk waspada, tapi tak bisa serta merta yakin pada apa yang disarankan oleh isyarat-isyarat tersebut. Pembaca juga ditarik kembali ke bagian-bagian sebelumnya, begitu cerita tersingkap satu-persatu. Dengan itu pembaca melepas lapis-lapis — dan menjelajahi — makna sepenuhnya dari keseluruhan novel ini.

Sudut pandang kanak-kanak — imajinasi dan keingin-tahuannya, pemahamannya yang lugu dan tak lengkap, ketergantungan dan ketakutannya, tekad untuk mandiri, kerentanan, persahabatan dan rasa iri yang kompetitif, juga ketakjubannya — tak hanya disajikan Arundhati dengan menarik. Sudut pandang ini dipertahankannya terus dari awal hingga akhir. Dan karena Estha dan Rahel tak pernah benar-benar tumbuh dewasa dan sebab itu hidup “di-luar-ruang-waktu” yang umum, The God of Small Things memang bisa dianggap sebagai anti-Bildungsroman, yang digarap dengan inovasi bahasa dan muslihat stylistic yang bagus. Hasilnya adalah sebuah novel yang tak saja menjadi best-seller dunia. Ia juga menjadi pertanda betapa kebudayaan dan tradisi kreatif India memang tetap menggeliat dengan daya hidup yang besar.

Yang pasti, sebagaimana Rahel Kochamma mengenang hal-hal yang indah dari masa silamnya, untuk menyembuhkan lukanya yang dalam, saya pun mengenang bagian-bagian terkuat dari Larung, juga Saman, untuk menawar kejengkelan saya atas “penghianatan-tak-kreatif” yang terjadi pada dua karakter istimewa ini. Memang, halaman-halaman “Pembunuhan Simbah” pada Larung, “Keajaiban di Prabumulih” pada Saman, dan beberapa cerita kecil yang mandiri pada kedua novel tersebut, adalah halaman-halaman yang cukup istimewa dalam khazanah novel Indonesia, dengan mutu yang bisa bersaing dengan halaman-halaman terbaik Arundhati Roy, dengan cahaya yang tak kalah berdenyar dari sepihan kristal-kristal linguistik yang tersimpan dalam kebanyakan novel karya peraih Hadiah Nobel.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Bentara-KOMPAS, Jumat 7 Desember 2001

Saturday, March 22, 2008

Kajian Sastra


IDEOLOGI NOVELIS AYU UTAMI DALAM PERSPEKTIF FEMINISME ISLAM** (Bagian2)

Oleh: Dina Mardiana, S.Sos

Ideologi Ayu Utami dalam karya sastranya

Pandangan George Lucac, seorang tokoh Marxis memandang Ideologi dapat juga membantu manusia juga ideologi sebagai kesadaran kelas dapat berperan membebaskan kelas tertentu dari penindasan.

Penelitian ideologi yang menggunakan pendekatan hermeneutika Ricoeur ini, memiliki perhatian khusus yang secara eksplisit dan sistematis berusaha menunjukkan bahwa hermeneutika menawarkan baik refleksi filosofis akan kehidupan dan pemahaman, maupun refleksi metodologis tentang sifat dan tugas interpretasi dalam penelitian sosial. Kunci dari arah refleksi ini apa yang oleh Ricoeur disebut dengan hermeneutika mendalam (dept hermeneutics). Ricoeur memproyeksikan bahwa dalam mengelaborasi pendekatan interpretatif dan kritis terhadap studi ideologi merupakan konstribusi terhadap pengembangan suatu hermeneutika kritis.

Dalam concern ideologi, analisa sosial-historis akan mengarahkan pada studi tentang relasi dominasi, maka pada analisa formal atau diskursif ia akan memfokuskan pada ciri struktur bentuk-bentuk simbol yang memfasilitasi mobilisasi makna. Ideologi dari komunikator dapat dilihat dengan jalan bagaimana makna melakukan pengakuan yang ditunjukkan oleh suatu teks. Strategi-stretegi dengan penggunaan modus operandi banyak dipakai Ayu untuk mencerminkan hubungan dominasi yang menimbulkan klaim legitimasi yang dapat diekspresikan dalam strategi-strategi kontruksi simbolik tertentu.

Misalnya dalam karya sastra Ayu Utami, ideologi komunikator dimunculkan yakni isme-isme feminis salah satunya melalui strategi rasionalisasi dan narativisasi. Strategi rasionalisasi yang dipakai yaitu dengan menggunakan dua cara yang pertama dengan membuat hubungan sebab akibat (kausalitas) atau membuat prinsip tertentu (appeals to principle). Seperti kutipan dibawah ini:

“Sebab saya sedang menunggu Sihar ditempat ini. Ditempat yang tak seorangpun tahu, kecuali gembel itu. Tidak orang tua, tidak ada isteri. Tak ada hakim susila atau polisi. Orang-orang, apalagi turis, boleh menjadi seperti unggas: kawin begitu mengenal birahi setelah itu, tak ada yang perlu ditangisi. Tak ada dosa” (Saman:5, cetak tebal oleh penulis).

“Yasmin kemudian memanggilku si Perek........

Julukan itu memang dia ucapkan dengan akrab, sebagaimana yang lain mendapat panggilan masing-masing. Laila dipanggil Peju, Pemudi Jujur. Sakuntala Piktor, Pikiran Kotor. Tapi perek tetap perek...........tapi tidak semua perempuan jadi perek. Cuma yang bejat dan terhina saja. Perempuan eksperimen. Bayangkan! Tak ada yang percaya bahwa perempuan eksperimen berarti bereksperimen. Tapi semua akan mengartikannya perempuan untuk eksperimen. Seperti kelinci percobaan, kelinci buat percobaan. Enggak mungkin kelinci yang membuat percobaan..........kadang aku jengkel, apapun yang kita lakukan , yang juga dilakukan laki-laki, kok kita mendapat cap jelek” (Larung: 83-84, cetak tebal oleh penulis).

……………………………………………………………………………………

“Orangtuaku percaya bahwa pria cenderung rasional dan wanita emosional. Karena itu pria akan memimpin dan wanita mengasihi. Pria membangun dan wanita memelihara. Pria membikin anak dan wanita melahirkan. Maka bapakku mengajari abangku menggunakan akal untuk mengontrol dunia, juga badan. Aku tak pernah dipaksakan untuk hal yang sama, sebab ia percaya pada hakikatnya aku tak mampu. (Larung: 136, cetak tebal oleh penulis).

Dalam kutipan teks diatas sudah sangat jelas bahwa isme-isme feminis direpresentasikan Ayu Utami dalam karya sastranya, seperti pembenaran akan perselingkuhan tokohnya Laila dan Sihar yang notabene sudah mempunyai isteri. Ayu Utami mempunyai asumsi bahwa perselingkuhan meskipun tanpa hubungan pernikahan dianggap benar karena diantara mereka ada cinta. Dalam teks tersebut Ayu Utami seakan membela kaumnya bahwa perselingkuhan yang hanya dijadikan salah satu simbol seakan sah saja tidak hanya berlaku bagi laki-laki seperti yang terjadi, tapi kaum perempuanpun mempunyai hak yang sama (wawancara, 12 Juli 2005).

Dan berbagai doktrin lainnya yang digunakan komunikator untuk menentang dominasi patriarki, perbedaan gender, dan ketidakadilan yang selama ini banyak menindas kaum perempuan. Wacana seksualpun tidak luput dituangkan Ayu dalam karya sastranya, seperti Ricoeur jelaskan tentang hermeneutika mendalam, bahwa bahasa menjadi sebuah wacana.dan dengan mengangkat wacana seperti inilah Ayu Utami bermaksud sebagai bentuk pengejekan tentang ketidakadilan masalah seksualitas yang berlaku bagi perempuan, hal tersebut juga menggiring wanita untuk melakukan hubungan sejenis. Dengan isme-isme itulah sisi ideologis komunikator sebagai seorang feminis pun dibeberkan.

Kodrat wanita yang dalam dunia patriarki, lebih pantas bekerja disektor domestik. Yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan “3M”, Manak (melahirkan), masak, dan macak (berhias). Dalam teks diatas merupakan wujud Ayu Utami untuk menumbangkan asumsi diatas, tapi kebudayaan tersebut masih terus berlangsung. Ideologi domestisitas atau domestikasi wanita ternyata tidak hanya melemparkan wanita kedunia dapur, tapi justru dunia dapur itu sudah dibawa kedunia publik dan dengan ini perempuan menjadi bagian penting dari proyek domestikasi ditingkat simbolik. Sisi ideologis Ayu pun dijadikannya sebagai perlawanan (ideology is struggle).

Seperti yang dikatakan Idi Subandi Ibrahim dalam wawancara dengan penulis yang menjelaskan tentang novel-novel yang dijadikan bentuk perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan seperti dibawah ini:

Bisa jadi hal itu sebentuk perlawanan atau pemberontakan terhadap dominasi patriarki. Tapi bisa juga dilihat dari perspektif lain, misalnya, bagaimana suara perempuan kini sudah mendapatkan tempat yang layak dalam “ruang publik” (wawancara tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2005)

Posisi Wanita dalam karya sastra Ayu Utami

Feminisme berasal dari kata femina yang berarti memiliki sifat keperempuanan. Feminisme diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki dimasyarakat. Dalam prakteknya gerakan feminis menghasilkan beberapa istilah dikalangan akademisi seperti feminisme liberal dan sosialis, feminisme perbedaan, feminisme kulit hitam pascastrukturalis, feminisme islam dll.

Gerakan feminis telah lama mendapat sambutan kuat dalam dunia islam. Jantung diskursus gerakan feminis islam adalah isu reinterpretasi progresif terhadap Alquran. Salah satu kritik utama feminis Islam terhadap feminis barat adalah kecenderungannya kepada sekularisme. Menurut teologi feminisme islam, konsep hak-hak asasi manusia yang tidak berlandaskan visi transidental merupakan hal yang tragis. Karenanya, mereka berpandangan gerakan perempuan Islam harus berpegang pada paradigma islam supaya tidak menjadi sekular.


Streotype perempuan yang dibangun Ayu dalam karya sastranya, dibangun Ayu Utami dengan berbagai stereotype, dimana disisi lain Ayu ingin menggambarkan seorang perempuan Timur yang taat dengan ajaran agama, aturan, patuh, penurut, dengan patuh pada suami dll. Tapi disisi lain, Ayu juga mengkonstruksi perempuan dengan isme-isme ideologinya dimana penentangannya terhadap dominasi patriarki membawa penggambaran sisi lain dari seorang perempuan yang tertuang dalam karya sastranya.

“Cok , pasti elu girang sekali, deh, akhirnya bisa menemukan kelemahan gue berzinah baru sekali.” Enak aja! Sedikitnya elu berzinah dua kali. Pertama dengan Lukas sebelum kalian kawin.

Lihat temanku Yasmin wajahnya yang rupawan, bersih seperti patung marmer. Hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Barangkali aku memang sirik padanya. Atau jengkel atau sekedar jail. Atau gemes. Sebab sejak kecil ia tak pernah bolos. Tak malas kursus piano dan balet. (tapi ia tak sukses menjadi pebalet karena kakinya terlalu ramping). Tak mengerjakan PR disekolah, tak membikin malu orang tua. Tidak bunting diluar nikah. Tak pernah pacaran ditempat gelap–waktu SMA. Dan, waktu sudah tahu seks dengan Lukas, gue kira dia juga nggak bersetubuh ditempat gelap. Ngapain punya badan bagus kalau gak dipamerin. Tapi, selain kepada kami, sahabatnya, mana pernah dia ngaku bahwa dia praktek seks ekstramarital. Noway dia akan terus terang. Pasti dimuka umum dia akan bilang “oh, keperawanan adalah mahkota yang harus dijunjung tinggi”. Dikempit rapat, maksud lu! Bahkan kini, perselingkuhannya dengan Saman hanya dia akui padaku... itulah. Dia munafik . dia selalu tampil kalem dan sopan, seperti karyawati baik-baik yang diidam-idamkan ibu-ibu kos. Tapi gue yakin, didasar hatinya yang paling dalam dia sama dengan aku. Binal. Perhatikan pakaian kerjanya:stelan, blazer dengan bantalan bahu, kayak eksekutif atau penyiar berita teve. Tapi gue yakin beha dan celana dalamnya pasti fansi”. (Larung, 79, cetak tebal oleh penulis).

Salah satu contoh teks kutipan yang penulis kutip diatas menceritakan tentang seorang perempuan Timur yang selalu patuh dan taat, dapat dilihat perempuan dalam hal ini Ayu konstruksi sebagai sesosok manusia yang hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Seperti yang dijelaskan Ayu Utami (wawancara,12 Juli 2005) yang ingin menggambarkan bahwa perempuan adalah wanita yang pintar, aktif dalam segala bidang dan bisa melakukan apa saja, hal tersebut dapat dilihat dari sosok tokoh Yasmin yang merupakan anak orang berada, keluarganya terhormat, setia pada suami dan juga merupakan seorang pengacara, tokoh dalam karya sastra Ayu ini juga merupakan seorang aktivis yang membela orang tertindas dan orang miskin.

Selanjutnya bentuk penentangannya terhadap dominasi patriarki Ayu pun membangun stereotype lain dari sosok seorang perempuan. Dalam kedua novelnya, citra perempuan terlihat kian buruk dengan keterlibatnnya dalam perselingkuhan yang dianggap biasa, seperti perselingkuhan mungkin diibaratkan sebagai perasaan yang dibiarkan mengalir atau semacam dendam masa silam yang bercampur aduk dengan aspirasi religius Yasmin. Dititik ini pengertian tradisional kita tentang perselingkuhan menjadi tak lagi memadai. Pengertian tersebut hanya menjadi judgement dari pihak luar, yaitu cerita Cok bukan suara hati yang mengalami (Yasmin dan Laila).

Lalu citra perempuan Timur pun terkikis dengan cerita tentang kehidupan bebas dengan melakukan seks pra-nikah yang dilakukan antara Yasmin dan Saman, cerita tentang sebuah virginitas, yang seharusnya dijadikan sebagai “mahkota yang harus dijunjung tinggi dan dikempit rapat”, menurut Ayu Utami sendiri penggambaran perempuan yang selalu gonta-ganti pasangan dan seluruh dan magma kultur yang selama ini dibangun masyarakat yang dianggap merugikan wanita. Semua Ayu libas dengan pegucilan sebuah etika Timur yang selama ini terpatri dibenak masyrakat dalam memandang sosok perempuan. Mitos tersebut terkalahkan oleh minimnya sebuah etika dari tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastranya.

Perspektif feminisme Islam

Feminisme dikenal dengan istilah women liberation, suatu upaya kaum Hawa dalam melindungi dirinya dari eksploitasi kaum Adam. Kesadaran untuk bangkit memperjuangkan hak dikalangan perempuan, sebenarnya telah menjadi bagian dari ajaran agama-agama dengan kadarnya masing-masing. Feminisme menjelma menjadi dambaan kaum wanita di dunia dan telah membangun ideologi kewanitaan yang melibas tesis-tesis awal tentang mitos “kepanutan” kaum hawa terhadap kaum adam. Tinjauan emosional perempuan yang tidak bias menerima kenapa perempuan hanya dipekerjakan dalam hal domestik laki-laki tidak, dan hal lainnya yang merespon semangat perempuan untuk mendobrak doktrin formalistik yang selama ini menjadi dominasi patriarki.

Hal inilah yang dibeberkan Ayu Utami dalam karya sastranya, dimana isme-isme gerakan feminisnya dijadikan tombak untuk penolakan-penolakannya terhadap wacana gender yang selama ini menjadi dominasi laki-laki. Dipandang dalam perspektif feminisme islam, isme-isme yang dinobatkan Ayu Utami sebagai bentuk wacana ideologinya, diantaranya Ayu menampilkan sisi feminisme liberal yakni gerakan feminisme yang berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan, ideologi yang Ayu angkat apabila dipandang dalam perspektif feminisme islam banyak yang bertentangan diantaranya ketika Ayu utami menobatkan tentang wacana seksual pra nikah, tentang perselingkuhan, dan prilaku-prilaku amoral lainnya yang Ayu angkat sungguh berbeda dipandang dalam segi feminisme Islam. Islam sendiri mempunyai ajaran yang memfilter agar umatnya tidak berbuat maksiat

Selain itu apabila memandang wanita dalam karya satra Ayu, terlihat dimana wanita sangat rendah, dan Ayu juga meinginkan kesetaraan dalam semua hal. Padahal kalau kita perhatikan dalam perspektif Islam, martabat kaum wanita telah diangkat dan diberikan hak-hak yang sama dengan kaum pria, walaupun sebelumnya telah hancur luluh oleh tradisi-tradisi, fanatisme golongan dan kebangsaan. Kepada kaum wanita telah diberikan peran yang amat besar, yang belum pernah diberikan oleh agama-agama sebelumnya. Islam memberikan perhatian khusus kepada kaum wanita, terbukti dengan ditetapkannya wanita sebagai salah satu surah dalam Alquran, yaitu surah An-Nisa. Sebagian besar ayat-ayat dalam surah ini membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita, utamanya yang berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap hak-hak wanita. Oleh sebab itu, hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam ini, dapat dikatakan sebagai hari lahirnya proklamasi kemerdekaan kaum wanita, karena ajaran Islam yang dibawa oleh beliau memberi perlindungan terhadap hak-hak wanita.

Disisi lain ada juga perspektif yang sama dalam memandang wanita yang ditekankan oleh Ayu Utami seperti tergambar dalam tokohnya Yasmin yang dalam sisi lain digambarkan sebagai tokoh Yasmin aktivis yang mempunyai karier sebagai pengacara yang sukses dan merupakan pembela kaum buruh dan ketertindasan wanita. Dimana dalam Islam pun tidak sedikitpun mengeliminir perempuan untuk aktif dalam social masyarakat, Islam menempatkan wanita pada posisi yang paling tinggi dan penuh adil, posisi seperti itupun kalau kita telaah lebih dalam, sesungguhnya hukum-hukum islam diturunkan kepada manusia dengan melihat sisi kemanusiaan, perbedaan hukum yang berbeda diantara pria dan wanita berdasarkan tabiat mereka masing-masing. Adanya keharusan pembagian tugas masing-masing dan hukum-hukum justru menjaga agar antara laki-laki dan perempuan terjalin kerjasama yang dilandasi kesucian. Maka sangat naif bila masih ada orang yang memiliki pemahaman miring mengenai kedudukan wanita dalam islam. Gambaran bahwa wanita islam adalah wanita yang jumud dan terkungkung karena syara, padahal islam memberikan keleluasaan pada wanita untuk melakukan aktivitas muamalat, memperoleh pendidikan yang tinggi dsb, yang penting prinsip-prinsip aturan sosial dan ajaran Islam harus ditegakkan.

Seperti halnya tentang masalah perkawinan yang ditentang Ayu Utami sebagai penguasaan laki-laki terhadap perempuan, justru dalam perspektif Islam seperti yang tergambar dalam perkawinan Muhammad SAW, yang membela wanita juga memposisikan wanita dalam kedudukannya untuk saling melengkapi. Seibarat pakaian yang saling melindungi bukan berarti dalam konsep penguasaan laki-laki terhadap wanita. Perlu diakui bahwa peran wanita sampai hari ini belum teroptimalisasikan. Teologi yang mengatur posisi wanita bukan produk dan pemikiran murni dari kaum wanita melainkan hasil rekayasa kaum pria. Maka sebebas apa pun kebebasan yang diberikan kepada kaum wanita, jelas-jelas akan dibatasi oleh kepentingan komunitas laki-laki.

Fatwa-fatwa yang berteologi laki-laki mengklaim bahwa kepemimpinan (formal, informal) secara mutlak menjadi hak laki-laki. Klaim ini merujuk kepada pernyataan Alquran yang ditafsirkan bahwa laki-laki berdir di atas (pemimpin) kaum wanita. Pemaknaan ini sepertinya mutlak dan tidak bisa diubah, tanpa melihat perkembangan realitas lebih lanjut, bahwa Allah SWT memberikan potensi yang lebih bagi beberapa kaum perempuan dan bukan mustahil melebihi kapasitas laki-laki.

Ajaran Islam sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk teroptimalisasinya peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT yang dalam beberapa hal berbeda. Sampai kapan pun untuk meneruskan regenerasi kehidupan, sekalipun teknologi rekayasa diciptakan, tetap yang bisa mengandung dan melahirkan hanyalah perempuan, laki-laki tidak. Sikap ramah, halus, perasa dan lunak dengan penuh kasih sayang diberikan Allah SWT kepada wanita, tidak kepada laki-laki. Luar dari kodrat azali, kaum wanita bisa mengekpresikan segala kemampuannya untuk berlomba bersama-sama kaum laki-laki ber-fastabiqul khairat.

Kesimpulan

Ideologi yang direpresentasikan dalam karya satra novelis perempuan yakni Ayu Utami adalah ideologi feminis, hal ini dapat dilihat dari permainan politik bahasa, bentuk-bentuk simbolik yang hasilnya akan mengungkap sebuah relasi dominasi guna mempertahankan ideologi si pengarang. Dalam karya sastra ini, relasi ideologis dibangun Ayu Utami yang terindikasi sebagai seorang feminis yakni tercermin dari teks-teks berbagai penentangannya terhadap dominasi patriarki dan gender, mulai dari wacana tentang seksualitas, virginitas, ayu libas sehingga memperlihatkan sisi ideologis dari pengarang.

Ayu Utami sebagai novelis perempuan mengkonstruksi wanita dari berbagai stereotype. Dengan penggunaan frase-frase, kiasan, simbol-simbol, Stereotype pertama yang Ayu Utami bangun yaitu perempuan itu pintar, aktif dalam berbagai kegiatan, penurut, istri yang baik tapi disisi lain Ayu juga justru lebih banyak mengkonstruksi perempuan dengan stereotype yang buruk. Penggambaran dari kaum ber-fallus ini dibawa Ayu dengan keterlibatan perempuan yang bisa memperalat dan bereksperimen dengan berbagai lawan jenis, terutama dalam hal seks, cerita perselingkuhan, hubungan seks pra-nikah, penentangan mitos keperawanan sebagai selaput dara dll.

Ideologi yang ditunjukkan Ayu Utami adalah konsepsi feminisme Barat yang nota bene berakar dari tradisi dan budaya hidup yang humanis, bukan berdasarkan konsep agama. Dalam konsepsi feminisme Islam ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki.

*** Pemenang II lomba karya Ilmiah mahasiswa UNISBA tahun 2006

Referensi :

Ansori, S Dadang, Kosasih Engkos; Sarimaya Farida; Membincangkan Feminisme: Repleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita, Pustaka Hidayah, Bandung, 1997.

Bleicher, Josef, Hermeneutika Kontemporer, Pajar Pustaka, Yogyakarta, 2003.

Dahana, Radhar Panca, Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, Indonesitera, Magelang, 2001.

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, LKIS, Yogyakarta, 2002

Effendy, Onong, Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984.

-------------------------------, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.

Kosasih, Engkos, Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan, Yrama,Bandung, 2004.

Kurnia Anton; Sastra Feminis Dalam Tiga Diskusi, Fokus Sastra Indonesia, 2004.

Luxemburg, Jan Van; Weststejjin, Mieke Bal Willem G; Pengantar Ilmu Sastra, Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Moleong, J. Lexy; Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.

Mulyana, Deddy; Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung; 2001

Mc. Quail, Denis, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 2003.

Palmer, E. Richard; Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.

Rahmat, Jalalludin Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991.

-----------------------, Catatan Kang Jalal:Visi Media, Politik, dan Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.

Ricoeur, Paul, The Interpretation Theory, Filsafat Wacana Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2002.

Sumaryono E., Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1999.

Sugihastuti, Adib Sofia, Feminisme dan sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang, Katarsis,2003.

Thompson, Jhon B; Analisis Ideologi Kritik Wacana Ideologi-ideologi Dunia, IRCiSoD, Yogyakarta, 2003.

Thompson, Jhon B, Kritik Ideologi Global, Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2004.

Takwin, Bagus, Akar-Akar Ideologi: Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu, Jalasutra, Yogyakarta, 2003.

Utami, Ayu, Saman, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1998.

--------------, Larung, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2001.

---------------, Si Parasit Lajang, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2003.

Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, Grasindo, Jakarta, 2000.

Internet

Nuraini Juliastuti, Kebudayaan yang Maskulin, Macho, Jantan, dan Gagah http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.

Loekito, Medy Asvega; Perempuan dan Sastra Seksual, Galeri Essai, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.

El Khalieqy, Abidah; Perlawanan Perempuan terhadap Ketidakadilan Sosial Atas Singgasana,http://www.gatra.com/2004-05-18/versi_cetak.php?id=37370,2005

Wawancara

Wawancara DR. Irfan Safruddin, M.Ag,13 Juni 2005.

Wawancara Drs. H.A. Hasan Ridwan, M.Ag. 15 Juni 2005

Wawancara Ayu Utami, Jakarta, 12 Juli 2005

Wawancara Tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2004

Kajian Sastra


IDEOLOGI NOVELIS AYU UTAMI DALAM PERSPEKTIF FEMINISME ISLAM** (Bagian I)
Oleh: Dina Mardiana, S.Sos
Abstrak

Banyaknya penulis perempuan yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan. Kebebasan berekspresi tersebut tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis. Ayu Utami sebagai novelis perempuan dikatakan sebagai generasi baru sastra Indonesia, yang telah mendobrak serta menerobos mitos-mitos yang cenderung merendahkan atau bahkan menampikkan etika timur. Dengan penolakannya yang tegas terhadap kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas.

Dalam penelitian ini penulis ingin meninjau idologi novelis tersebut dipandang dari persfektif feminisme islam, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, mengekplanasi dan mengkonstruksi ideologi penulis perempuan dalam karya sastranya. Studi kualitatif dengan pendekatan Hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur adalah metode yang digunakan penulis dalam proses penelitian ini. Adapun tekhnik pengumpulan data yaitu lewat studi pustaka, studi dokumentasi dan wawancara mendalam (dept interview).

Sebagai hasil dari kesimpulan penelitian, yaitu adanya gerakan feminisme yang terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan sebagai penuntutan hak asasi perempuan yang terkandung dalam karya sastra novelis perempuan tersebut. pertentangan terhadap dominasi patriarki juga yang membuat wanita ingin dikonstruksi sebagai manusia yang layak menerima peradilan yang seimbang tanpa adanya perbedaan jenis kelamin. Dalam persfektif feminisme tentu saja dari ideologi tersebut, meskipun ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, hubungan sesama jenis, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki

Kebebasan sastra

Demam baru sedang menjangkit kisah dunia sastra di Indonesia. Dapat dikatakan ini terjadi akibat bangkitnya wanita dari keterbelengguannya sejak era Kartini. Dari kacamata sederhana, kebebasan wanita dalam berkarya kini telah menjadi jamur di tengah hujan, dengan banyak penulis-penulis perempuan berbakat yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan.

Tapi terkadang kebebasan berekspresi tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya kesenian atau sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis yang cenderung bermain didalam imajinasi atau gambaran suatu kehidupan yang melampaui wilayah lingkungannnya, dan masuk kedalam gambaran tentang kehidupan dimana dirinya tidak berada dalam geografi yang paling riil (Kompas, 3 April 2005).

Bagian penting dari suatu karya sastra adalah kandungan moral dan etika, di samping parade kekuatan bahasa yang dijadikan simbol. Pendapat bahwa karya sastra adalah suatu entitas tunggal yang mandiri dan bebas merdeka tampaknya perlu diwaspadai, terutama oleh para pelaku utama seni sastra, yakni para penulis atau sastrawan atau sastrawati. Terlepas dari pandangan peneliti Jerman, Wolfgang Iser, bahwa sastra harus dinilai bukan hanya berdasarkan bentukan tulisan itu semata, melainkan juga harus diperhatikan pengaruhnya bagi konsumen, idealnya para pelaku sastra Indonesia bisa lebih arif melihat kondisi bangsanya sendiri.

Karya-karya sastra biasanya menjelma hampir di semua pembatasan etika kodratnya sebagai perempuan dengan mengatasnamakan kepentingan kaumnya, perempuan itu menuangkan ideologi mereka sebagai bentuk pemberontakan hatinya di tengah sikap ketertindasan sesama kaumnya yang selama ini menjadi euphoria di Indonesia. Karya sastra mereka berperan di masyarakat sebagai pemapanan bagaimana degradasi moral, bagaimana ide feminisme teriritasi.

Sisi feminismepun ditonjolkan dan dinobatkan sebagai acuan primer oleh para novelis perempuan seperti dengan keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Melalui perlawanan terhadap tabu ini, mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan, terutama dalam hal seks.

Pada zaman sebelum islam, kaum wanita selalu dibawah kezaliman pria, diperjualbelikan laksana binatang dan barang, tidak memperoleh hak-hak menurut undang-undang dan tidak dapat kedudukan dalam masyarakat sebagaimana yang sewajarnya diberikan kepada mereka dan seharusnyadiakui oleh masyarakat. Dalam Islampun feminisme tidak hanya diartikan sebagai sebuah sudut pandang (perspektif) yang memiliki akar sejarah yang berbeda-beda melainkan telah menjadi gerakan dalam sejarah itu sendiri. Ajaran Islampun sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk mengoptimalisasikan peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT.

Dengan demikian bentuk-bentuk gerakan perempuan tersebut diatas, terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan. Wanita disimbolkan sebagai Megaloman, Hera atau Xena yang mempunyai kekuatan yang sama bahkan lebih dibandingkan dengan laki-laki. Dan salah satu wilayah dunia simbolik yang sekaligus menjadi sarana strategi yakni lewat bahasa. Kuncinya adalah bagaimana melihat ideologi itu sebagai pertautan berbagai kepentingan individu atau kelompok dominan yang berbenturan. Dengan demikian, kerja ideologi lewat bahasa itu dipastikan akan menelurkan makna-makna baru yang tentunya berguna bagi dunia sastra dan masyarakat. Dalam feminisme islam sendiripun masih tetap mencari formulai (kosakata) yang simbol dan pemaknaannya lebih islami daripada produk Barat.
Tinjauan hermeneutika
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika, hermeneutika disini seperti yang dijelaskan Irfan Safrudin dan H.A Hasan Ridwan dalam wawancaranya dengan penulis, mengartikan hermeneutika sebagai interpretasi terhadap ideologi novelis perempuan dalam karya sastranya. Teori heremeneutika dari Paul Ricoeur adalah pendekatan yang dipakai penulis dimana Paul Ricoeur menguraikan tentang hermeneutika mendalam dalam tiga tahapan, yang terdiri dari pertama adalah level semantik bahwa bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontologi, oleh sebab itu kajiannya tidak dapat terlepas dari struktur bahasa dan kebahasaan yang tercakup dalam simbolisme. Kedua adalah level refleksi yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada level filosofis. Proses ini dapat dilakukan melalui proses ulang balik antara pemahaman teks dengan pemahaman diri dan berlangsung seperti hermeneutika cycle yang telah penulis jelaskan. Tahap terakhir adalah level eksistensial, dalam tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna, bagi manusia ternyata berakar dari dorongan-dorongan yang bersifat instingtif.
Dengan pisau analisis diatas, penulis berharap penelitian ini bisa mendalam dan kritis. Adapun pelaksanaan penelitian ini secara garis besar terdiri dari 3 tahap, yaitu:”tahap orientasi, eksplorasi dan membercheck” (Nasution,2003:31-36). Proses pengumpulan data sendiri dilakukan dengan jalan studi pustaka, studi dokumentasi juga wawancara mendalam (dept interview).

Untuk membantu pengkajian penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma kualitatif yang multi paradigma, dimana penulis menggunakan beberapa teori untuk menemukan paradigma baru. Selain menggunakan teori hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur juga dilengkapi dengan berbagai perspektif teorikal diantaranya yaitu teori kritis, teori tripartit komunikasi massa dll. (Bersambung ke Bagian 2)


Betina, Wanita, Perempuan:

"Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik"

Oleh : Sudarwati dan D. Jupriono

Perbedaan makna kata betina dengan wanita atau betina dengan perempuan itu sudah jelas bagi kita. Akan tetapi, apa beda antara wanita dan perempuan ini yang belum jelas!

Telaah ini memang mencoba mendudukkan posisi tiap kata, kapan orang harus menggunakannya sesuai dengan kandungan semantisnya dan maksud yang diinginkan. Dengan demikian, diharapkan segera bisa dijawab saat harus memilih manakah yang tepat: "Darma Wanita" ataukah "Darma Perempuan", "Pemberdayaan Perempuan" ataukah "Pemberdayaan Wanita", misalnya.

Telaah dilakukan berdasarkan arti kata leksikal dasarnya, menurut kamus (semantik leksikal) (cf. Hurford dan Heasley, 1984). Lalu, penjelajahan arti akan dilengkapi dengan memanfaatkan beberapa hasil penelitian yang ada, terutama tentang sejarah perubahan makna kata (semantik historis) (Palmer, 1986: 8-11). Kajian ini juga akan melihat bagaimana arti kata dalam pemakaian (pragmatik). Data dijaring dengan teknik dokumentasi acak dari kamus dan teknik studi pustaka terhadap tulisan yang relatif lama serta teknik rekaman tuturan keseharian. Dengan metode deskriptif, data akan dianalisis dengan teknik eksplanatori-komparatif, yang akan menjelasan perbandingan arti kata antarwaktu.

Apa Arti Betina?

Kata betina diduga kuat berhubungan dengan kata batina dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) ("Kamus Jawa Kuno Indonesia", Mardiwarsito, 1986). Bahasa Kawi sendiri kemungkinan besar menyerapnya dari bahasa Sanskrit (Sanskerta). Relasi fonis batina dengan betina beranalogi dengan relasi fonis mahardika-mardika-merdeka 'bebas'. Mungkin ini juga analog dengan saksama-seksama (?).

Menurut "Kamus Dewan" (KD) (Iskandar, 1970: 114), kata betina merupakan antonim jantan. Dalam pemakaiannya, betina cocok dilekatkan sebagai pemarkah jenis (gender) binatang atau benda yang tidak hidup. Misalnya dalam bahasa Indonesia (Melayu) kita temui ayam betina, singa betina, bunga betina, dan embun betina.

Tidak jauh berbeda dengan KD, "Kamus Besar Bahasa Indonesia" (KBBI) (Tim, 1988: 111) menambahi satu makna lagi untuk betina, yakni 'sanak keponakan dari istri'. Ada dua hal yang dapat dicatat dari tambahan acuan di sini. Pertama, istilah "sanak keponakan" menunjukkan posisi generasi lebih muda. Sebagai yang lebih muda, tentu dia tetap berada di bawah generasi lebih tua. Kedua, pernyataan "dari istri" berarti bahwa yang dipandang bawah, yunior, itu karena istri, dan istri selalu perempuan! Oleh karena itu, ini juga menyiratkan muatan semantis bahwa apa yang datang dari istri (bukan suami) akan ditempatkan di bawah suami.

Sebagai nama jenis kelamin binatang, betina tidak mengundang persoalan; netral saja. Tidak ada muatan nuansa apa pun. Bagaimana seandainya kata ini dipakai untuk manusia? Ini baru masalah! Jika dikaitkan dengan aktivitas, keberadaan, dan sifat manusia, artinya menjadi tidak netral lagi. Peribahasa Melayu "Baik jadi ayam betina sepaya selamat" (Iskandar, 1970: 114), misalnya, berarti 'kita tak usah menonjolkan keberanian sebab hanya mendatangkan kesusahan belaka'; dengan kata lain, 'sebaiknya kita diam, tak usah macam-macam, hindarilah tantangan'. Dengan demikian "bersikap betina" justru dinilai positif dalam pandangan lama.

Bisa dimengerti, sebagai peribahasa Melayu Kuno, kandungan nilai peribahasa ini juga tradisional, konvensioanl, dan feodal. Dalam pandangan tradisional, sikap individualistik mesti dihindari (cf. Dananjaya, 1984). Ini jelas bertolak belakang dengan pandangan modern, yang menempatkan eksistensi individu pada tempat yang diakui. Oleh karena itu, penonjolan individu tidak selalu jelek, bergantung pada konteks kepentingannya.

Dalam pemakaiannya sekarang, kata betina yang dikenakan pada manusia akan menemukan makna buruk. Misalnya pada wacana berikut:

(1) Kamu ini kok cerewet banget sih. Urus saja diri sendiri. Ngapain tanya urusan orang segala. Dasar betina!
(2) Winda benar-benar betina, yang nafsunya terlampau besar, hingga tak pernah puas hanya dengan satu lelaki suaminya itu.

Dalam wacana (1), kalimat "Dasar betina" bermakna negatif: 'cerewet, usil, mau tahu urusan orang saja'. Dalam kalimat (2), pernyataan "benar-benar betina", berdasarnya konteks kalimatnya, berarti "minor" juga: 'nympomania'. Di sini Winda digambarkan sebagai perempuan yang bernafsu menggebu-gebu, selingkuh dengan lelaki lain. Pada konteks inilah betina menemukan makna buruknya. Harus diakui bahwa semua pandangan ini tidak pernah bebas dari stereotipe gender perempuan dari masyarakat kita (Kweldju, 1993). Maka, dalam kondisi apa pun tak pernah ada yang senang disebut betina. Dengan demikian, yang muncul adalah Darma Wanita (organisasi ibu-ibu pegawai) dan Bukan Perempuan Biasa dan tentulah tentu bukan "*Darma Betina" atau pun "*Bukan Betina Biasa".

Singkat kata, kata betina memuat makna (1) 'jenis kelamin binatang', (2) 'cerewet, usil, dan (3) 'haus seks', serta (4) 'generasi yunior dari garis istri'.

Apa Arti Wanita?

Sejarah kontemporer bahasa Indonesia, ya sekarang ini, mencatat bahwa kata wanita menduduki posisi dan konotasi terhormat. Kata ini mengalami proses ameliorasi, suatu perubahan makna yang semakin positif, arti sekarang lebih tinggi daripada arti dahulu ("Kamus Linguistik", Kridalaksana, 1993: 12).

Menurut KD (1970: 1342), kata wanita merupakan bentuk eufemistis dari perempuan. Pada halaman yang sama, dicontohkan frase wanita-wanita genit. Contoh ini paradoksal. Sebab, jika wanita berupakan bentuk halus, mengapa ada kata genit-nya, sesuatu yang jelas tidak halus. Tetapi, ini juga menyiratkan pandangan bahwa kata itu memang khas untuk manusia (perempuan), bukan lelaki, binatang, demit, ataukah benda lain.

Kata kewanitaan, yang diturunkan dari wanita, berarti 'keputrian' atau 'sifat-sifat khas wanita'. Sebagai putri (wanita di lingkungan keraton), setiap wanita diharapkan masyarakatnya untuk meniru sikap laku, gaya tutur, para putri keraton, yang senantiasa lemah gemulai, sabar, halus, tunduk, patuh, mendukung, mendampingi, mengabdi, dan menyenangkan pria. Dengan kata wanita, benar-benar dihindari nuansa 'memprotes', 'memimpin', 'menuntut', 'menyaingi', 'memberontak', 'menentang', 'melawan'. Maka, bisa dimengeri bahwa yang muncul dipilih sebagai nama organisasi wanita bergengsi nasional adalah "Darma Wanita", sebab di sinilah kaum wanita berdarma, berbakti, mengabdikan dirinya pada lembaga tempat suaminya bekerja. Maka, program kerjanya pun harus selalu mendukung tugas-tugas dan jabatan suami,1) jangan bermimpi bisa independen memang bukan itu misinya.

Dalam KBBI (1988: 1007), wanita berarti 'perempuan dewasa'. Sama seperti halnya KD, meski dengan redaksi lain, KBBI pun mendefinisikan kewanitaan (bentuk derivasinya) sebagai "yang berhubungan dengan wanita, sifat-sifat wanita, keputrian". Muatan makna aktif, menuntut hak, radikal, tak ada dalam arti kata ini.

Berdasarkan "Old Javanese English Dictionary" (Zoetmulder, 1982), kata wanita berarti 'yang diinginkan'. Arti 'yang dinginkan' dari wanita ini sangat relevan dibentangkan di sini. Maksudnya, jelas bahwa wanita adalah 'sesuatu yang diinginkan pria'. Wanita baru diperhitungkan karena (dan bila) bisa dimanfaatkan pria. Sudut pandangnya selalu sudut pandang "lawan mainnya", ya pria itu. Jadi, eksistensinya sebagai makhluk Tuhan menjadi nihil. Dengan demikian, kata ini berarti hanya menjadi objek (bagi lelaki) belaka. Adakah yang lebih rendah dari "hanya menjadi objek"?

Makna wanita sebagai 'sasaran keinginan pria' juga dipaparkan oleh Prof. Dr. Slametmuljana dalam "Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara" (1964: 59--62). Kata wanita, dalam bahasa aslinya (Sanskerta), tulisnya, bukan pemarkah (marked) jenis kelamin. Dari bahasa Sanskerta vanita, kata ini diserap oleh bahasa Jawa Kuno (Kawi) menjadi wanita, ada perubahan labialisasi dari labiodental ke labial: [v]-->[w]; dari bahasa Kawi, kata ini diserap oleh bahasa Jawa (Modern); lalu, dari bahasa Jawa, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Setelah diadopsi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, kata ini mengalami tambahan nilai positif.

Ada juga pandangan lain, yang cukup "menyakitkan", yakni bahwa kata wanita bukanlah produk kata asli (induk). Kata ini hanyalah merupakan hasil akhir dari proses panjang perubahan bunyi (yang dalam studi linguistik sering disebut gejala bahasa) metatesis2) dan proses perubahan kontoid3) dari kata betina. Urutan prosesnya demikian. Mula-mula kata betina menjadi batina; kata batina berubah melalui proses metatesis menjadi banita; kata banita mengalami proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dari [b]-->[w] sehingga menjadi wanita. Maka, memang aneh bin ajaib, bahwa kata yang demikian kita hormati, bahkan kita letakkan pada tempat tinggi di atas kata perempuan ini, maksudnya ya wanita itu, ternyata berasal dari kata rendah betina.

Mungkin karena itulah, organisasi "Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia" (Iwapi) sering dipelesetkan artinya tentu saja, oleh pria menjadi "Iwak-e Papi-papi", "Dagingnya bapak-bapak" atau "Lauknya Bapak-bapak" seakan wanita itu tak lebih dari "daging" atau "lauk-pauk" yang bisa dikonsumsi oleh pria. Dalam karier militer pun, dipakai wanita. Misalnya saja "Korps Polisi Wanita" (Polwan, 1948), "Korps Wanita Angkatan Darat" (Kowad, 1961), "Korps Wanita Angkatan Laut" (Kowal, 1962), "Korps Wanita Angkatan Udara" (Wara, 1963). Meskipun begitu, pelecehen keterlibatan dan kemampuan wanita dalam tubuh ABRI pun masih terjadi. Terang-terangan memang tidak, tetapi ada dalam bentuk ungkapan humor di masyarakat (Dananjaya, 1984), misalnya berikut ini.

Seorang komandan serdadu pada suatu front peperangan memerintahkan penarikan mundur khusus serdadu wanita. Alasannya, mereka melanggar disiplin medan. Serdadu-serdadu wanita, yang merasa tidak membuat kesalahan disiplin militer, memprotes ramai-ramai. "Kesalahan??? Kesalahan apa itu, Komandan? Ini tidak adil!" Jawab Komandan dengan kalem, "Kamu sih, setiap diberi komando � 'tiaraaap ...', ee kamu malah terlentang."

Ini merupakan pantulan realitas bahwa apa pun yang dilakukan wanita tetaplah tak sanggup menghapus kekuasaan pria. Wanita berada dalam alam tanpa otonomi atas dirinya. Begitulah inferioritas wanita akan selalu menderita gagap, gagu, dan gugup di di bawah gegap gempitanya superioritas pria.

Berdasarkan etimologi rakyat Jawa (folk etimology, jarwodoso atau keratabasa, kata wanita dipersepsi secara kultural sebagai 'wani ditoto'; terjemahan leksikalnya 'berani diatur'; terjemahan kontekstualnya 'bersedia diatur'; terjemahan gampangnya 'tunduklah pada suami' atau 'jangan melawan pria'. Dalam hal ini wanita dianggap mulia bila tunduk dan patuh pada pria. Sering ada ungkapan "pejang gesang kula ndherek" (hidup atau mati, aku akan ikut suami), "swargo nunut, neraka katut" (suami masuk surga aku numpang, suami masuk neraka aku terbawa). Ternyata anggapan Jawa ini merasuk kuat dalam bahasa Indonesia. Kesetiaan wanita dinilai tinggi, dan soal kemandirian wanita tidak ada dalam kamus. Karenanya, dalam bahasa Indonesia kata wanita bernilai lebih tinggi sebab, kata Ben Anderson (1966), bahasa Indonesia mengalami "jawanisasi" atau "kramanisasi": kulitnya saja bahasa Melayu yang egaliter, tetapi rohnya bahasa Jawa yang feodal itu.

Dalam persepsi kultural Jawa pulalah, kata wanita menemukan perendahan martabat ketika ia "dipakai" salah satu barang klangenan (barang-barang untuk pemuasaan kesenangan individu). Jargon lengkap populernya adalah harta, senjata, tahta, wanita. Lelaki Jawa, menurut persepsi Jawa ini, baru benar-benar mampu menjadi lelaki sejati, lelananging jagat, bila telah memiliki kekayaan berlimpah (harta), melengkapi diri dengan kesaktian dan senjata (senjata), agar dapat memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, priyayi (tahta), dan semuanya baru lengkap bila sudah memiliki banyak wanita, entah sebagai istri sah entah sekadar selir atau gundik4). Di sini tampak benar bahwa manusia wanita disederajatkan dengan benda-benda mati semacam degradasi harkat martabat salah satu gender5), sekaligus dehumanisasi.

Dengan demikian, untuk sementara bisa segera ditarik kata simpul: wanita berarti 'manusia yang bersikap halus, mengabdi setia pada tugas-tugas suami'. Suka atau tidak, inilah tugas dan lelakon yang harus dijalankan wanita. Apakah memang demikian?

Apa Arti Perempuan?

Dalam pandangan masyarakat Indonesia, kata perempuan mengalami degradasi semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna; arti sekarang lebih rendah dari arti dahulu (Kridalaksana, 1993).

Di pasar pemakaian, terutama di tubuh birokrasi dan kalangan atas, nasib perempuan terpuruk di bawah kata wanita, sehingga yang muncul adalah Menteri Peranan Wanita, pengusaha wanita (wanita pengusaha), insinyur wanita, peranan wanita dalam pembangunan, dan pastilah bukan *Menteri Peranan Perempuan, *pengusaha perempuan (*perempuan pengusaha), *insinyur perempuan, *peranan perempuan dalam pembangunan.

Dalam KD (1970: 853), kata perempuan berarti 'wanita', 'lawan lelaki', dan 'istri' . Menurut KD, ada kata raja perempuan yang berarti 'permaisuri'. Dengan contoh ini kata ini tidak berarti rendah. Sementara itu, kata keperempuanan berarti 'perihal perempuan', maksudnya pastilah masalah yang berkenaan dengan keistrian dan rumah tangga. Dalam hal ini, meski tidak terlalu rendah, tetapi jelas bahwa kata ini menunjuk perempuan sebagai 'penunggu rumah'.

KBBI (1988: 670) memberikan batasan yang hampir sama dengan KD, hanya ada tambahan sedikit, tetapi justru penting, untuk kata keperempuanan. Menurut KBBI, keperempuanan juga berarti 'kehormatan sebagai perempuan'. Di sini sudah mulai muncul kesadaran menjaga harkat dan martabat sebagai manusia bergender feminin. Tersirat juga di sini makna 'kami jangan diremehkan' atau 'kami punya harga diri'.

Dalam tinjauan etimologisnya, kata perempuan bernilai cukup tinggi, tidak di bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki. Ah, masa?!! Ya. Jelasnya begini.

  • Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti 'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', atau pun 'kepala', 'hulu', atau 'yang paling besar'; maka, kita kenal kata empu jari 'ibu jari', empu gending 'orang yang mahir mencipta tembang'.
  • Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu 'sokong', 'memerintah', 'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'; kata mengampu artinya 'menahan agar tak jatuh' atau 'menyokong agar tidak runtuh'; kata mengampukan berarti 'memerintah (negeri)'; ada lagi pengampu 'penahan, penyangga, penyelamat', sehingga ada kata pengampu susu 'kutang' alias 'BH'.
  • Kata perempuan juga berakar erat dari kata empuan; kata ini mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya 'sapaan hormat pada perempuan', sebagai pasangan kata tuan 'sapaan hormat pada lelaki'.

Prof. Slametmuljana (1964: 61) pun mengakui bahwa kata yang sekarang sering direndahkan, ditempatkan di bawah wanita, ini berhubungan dengan makna 'kehormatan' atau 'orang terhormat'. Tetapi, yang dilihatnya di masyarakat lain lagi. Maka, ia pun tidak mampu menyembunyikan keheranannya berikut:

"... Yang agak aneh dalam tjara berpikir ini ialah apa sebab perempuan tempat kehormatan itu semata-mata diperuntukkan bagi wanita, sedangkan hormat dan bakti setinggi-tingginya menurut adat ketimuran djustru datang dari kaum wanita, terhadap suami."

Itulah sebabnya, tidak sedikit aktivis gerakan perempuan baik yang di bawah payung lembaga pendidikan formal maupun yang lebih suka malang melintang di alam bebas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lebih suka memilih kata perempuan daripada wanita untuk organisasi mereka. Misalnya Solidaritas Perempuan (Jakarta), Yayasan Perempuan Merdika (Jakarta), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK, Jakarta), Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA, Yogyakarta), Sekretariat Bersama Perempuan Yogya (Yogyakarta), Forum Diskusi Perempuan Yogya, Suara Hati Perempuan, Kelompok Perempuan untuk Kebebasan Pers (KPKP), dan Gerakan Kesadaran Perempuan--sekadar menyebut beberapa contoh. Menarik untuk dicontohkan di sini bahwa nama jurnal keperempuanan terbitan LIPI adalah "Warta Studi Perempuan" dan bukan *Warta Studi Wanita. Sementara itu, jika dahulu "Women Study" diterjemahkan menjadi "Kajian Wanita", sekarang muncul saingan baru, "Studi Perempuan".

Dari sudut sejarah pergerakan nasional pun, kata perempuanlah yang telah menyumbangkan kontribusi historisnya. Kita ingat, kongres pertama organisasi "lawan tanding lelaki" ini dinamainya "Kongres Perempoean Indonesia Pertama, yang berlangsung pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta (Rahayu, 1996).6) Dalam Kongres I ini disepakati bahwa persamaan derajat hanya dapat dicapai bila susunan masyarakatnya tidak terjajah. Langkah organisasi pertama yang dilakukan adalah membentuk "Perserikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia" (PPPI). Bahwa dalam perjalanan sejarah lahir Kowani, Perwari, Perwani, KNKWI, BMOIWI, Ikwandep perhatikan, selalu ada huruf /W/ setidaknya itulah jejak-jejak historis lingual bahwa kita lebih memilih "wanita", dan bukan "perempuan", sebab yang kita kehendaki bukan perempuan mandiri, melainkan perempuan penurut. (Silahkan pembaca menjawab sendiri, apakah setelah lebih dari setengah abad kemerdekaan ini kaum perempuan telah mencapai persamaan derajat, seperti impian Kongres I).

Sejak kemerdekaan, seperti disebut di atas, derap Kongres Perempoewan Indonesia sudah (di)musnah(kan) dari peredaran. Muncul pengganti-penerusnya: Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sejak menjelang kemerdekaan, yang relatif lunak, umumnya terdiri atas para istri pegawai. Mungkin sejak inilah wanita secara resmi menggeser perempuan. Sejak saat itu setiap partai-partai politik di Indonesia juga mempunyai anak organisasi wanita, bukan perempuan, misalnya Wanita Demokrat dan Gerakan Wanita Marhaen (PNI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani, PKI), dan pasca-1965 ada Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), serta Dharma (1974) (Rahayu, 1996: 30-31).

Perempuan Disembah-sembah, Itu Dulu ...

Dahulu sesuatu yang bersifat perempuan dihormati, dijunjung tinggi. Dalam hal ini kita tak lagi mempersoalkan perbedaan istilah wanita, perempuan, betina, atau pun ibu, bunda, mbaktu, biyung, mama, dewi, putri, ratu. Kita bicarakan hal itu secara global saja. Dahulu kaum ibu dikatakan sebagai "tiang masyarakat", diluhurkan sebagai "ratu kehidupan", dan dimitoskan sebagai "danyang kesuburan alam semesta", serta disembah-sembah � sebagai "penentu awal kehidupan manusia di bumi".

Zaman sekarang kaum ibu selalu dituding sebagai sumber kesalahan, terutama berhubungan dengan kenakalan anak-anak. Bukankah mendidikan anak itu tugas seorang ibu, bukan bapak? Karena perempuan mengalami domestifikasi peran, bila terjadi kericuhan keluarga, ibulah yang layak dikorbankan sebagai kambing hitam. "Ini gara-gara terlalu kau manja," atau juga "coba, kalau kamu mendidiknya benar, anak kita tidak binal seperti ini," begitu kata ayah. Dahulu, nasib ibu tidak seburuk ini, tidak dituding sebagai biang kerok perkara. Dia sangat dibela, dibersihkan dari tuduhan. Posisinya sebagai peletak awal kehidupan manusia sangat menentukan, karena dari guwagarba rahimnyalah, manusia di bumi ini berasal. Oleh karena itu, jika ada anak yang nakal, ibu akan dibela, sehingga ungkapan yang muncul adalah "Bukan salah bunda mengandung" dan bukan ungkapan "*Bukan salah ayahnda menghamili" atau "*Bukan salah ayahnda membuahi". Ini bukti pengakuan bahwa mengandung itu lebih bernilai tinggi daripada menghamili (Kweldju, 1991). Karena yang mengandung itu biasanya ibu, ibulah yang lebih diharga.

Pelesetan-pelesetan di masyarakat terhadap kata-kata tertentu juga menggambarkan seberapa jauh nilai dominasi pria terhadap wanita ini hendak menandingi pemahaman masyarakat terhadap hakikat suatu kata. Semula, berdasarkan etimologi rakyat (jarwodosok, keratabasa) Jawa, kata "garwo", misalnya, dipersepsi sebagai "sigaraning nyowo" (belahan jiwa). Di sini, kedudukan seorang istri cukup terhormat, sejajar, sama, segaris, dan komplementer dengan suami; tidak ada nuansa dominasi dan subordinasi antargender. Memang, garwo adalah kata yang netral, egaliter, tidak memihak salah satu jenis kelamin (bias gender). Ia bisa mengacu baik kepada "garwo jaler" (suami) maupun "garwo estri" (istri). Akan tetapi, selanjutnya inilah kurang ajarnya pemahaman terhadap kata garwo telah dipelesetkan sebagai "sigar tur dowo" (terbelah dan lagi panjang), sesuatu yang bisa mengundang kesan porno dan pelecehan. Tidak sulit ditebak siapa pelaku pemelesetan ini: pastilah dari barisan pria.

Tidak hanya persepsi kultural masyarakat, agama pun meletakkan ibu pada posisi sangat terhormat. Dalam Islam, misalnya, ada hadis yang sangat terkenal berkenaan dengan ini, yakni "Surga itu di bawah telapak kaki ibu". Maka, menurut pandangan ini, tempat berbakti adalah ibu, ibu, dan ibu, kemudian baru ayah. Mungkin karena kecemburuan religiusitas-gender, di masyarakat kami pernah mendengar pelesetan sinis terhadap ini tentu saja dari kaum bapak.7) Surah paling Al-Fatihah, saripati dari semua surah dalam Kitab Suci Quran, misalnya, disebut "Ummul Qur'an" dan bukan "Abul Qur'an" (Nadjib, 1996). Dalam agama lain pun kurang lebih sama. Begitulah ...

Perempuan Indonesia, Akan ke Manakah Anda?

Di sini jelas sekali bahwa jika yang kita maksudkan adalah sosok yang mengalah, rela menderita demi pria pujaan, patuh berbakti, maka pilihlah kata wanita. Maka, yang tepat tetaplah "Darma Wanita" memang dimaksudkan untuk berbakti. Tetapi, jika kita berbicara soal peranan dan fungsinya, soal pemberdayaan kedudukan, soal pembelaan hak asasi, soal nasib dan martabatnya, tidak ada jalan lain, gunakan kata perempuan, semisal "peranan perempuan dalam perjuangan", "gerakan pembelaan hak-hak perempuan pekerja". Setuju?

Bisa dipastikan siapa pun akan ragu, jika hati harus lebih berpihak pada perempuan daripada pada wanita. Justru, itulah bukti hebatnya hegemoni patriarki dalam masyarakat mana pun, sehingga jangankan yang menguasai, yakni pria, yang dikuasai pun, yaitu wanita, merasa takut, khawatir, bahkan merasa menikmati "penguasaan" itu. Bagi kelompok terakhir ini, hegemoni kekuasaan pria akan dinikmatinya sebagai "perlindungan" dan "kasih sayang". Ditindas kok tidak melawan. Mengapa? Sulit menjawabnya. Mungkin kaum wanita tergolong makhluk ajaib, yang suka menyiksa diri, menyimpan samudra kesabaran luar biasa, suka berkorban, memang karena tak berdaya, atau jangan-jangan mereka berjiwa masokistis, suatu jenis kenikmatan dalam penindasan. Jiwa mereka berada dalam situasi terpenjara (captive mind). Akhirnya, Perempuan Indonesia, terserah saja, Anda mau ke mana ...?

Catatan

  1. Orde Baru merumuskan peran kaum wanita ke dalam lima kewajiban (Pancadarma): (1) wanita sebagai istri pendamping suami, (2) wanita sebagai ibu pendidik dan pembina generasi muda, (3) wanita sebagai pengatur ekonomi rumah tangga, (4) wanita sebagai pencari nafkah tambahan, dan (5) wanita sebagai anggota masyarakat, terutama organisasi wanita, badan-badan sosial, dan sebagainya yang menyumbangkan tenaga kepada masyarakat. Perhatikan, di sini yang dinomorsatukan adalah kewajiban istri sebagai istri mendampingi sang suami tercinta. Sementara, urusan bergerak di sektor publik (di luar rumah) menduduki nomor bungsu, artinya tidak dipentingkan. Ini terjadi sebab ada anggapan bahwa di luar rumah itu urusan lelaki, sedang di dalam rumah (sektor domestik) inilah tempat tepat wanita. Periksa: Binny Buchori & Ifa Soenarto, "Mengenal Dharma Wanita". Mayling Oey-Gardiner dkk. (ed.), Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini (Jakarta: PT Gramedia, 1996) hal. 172-193); juga: Ruth I. Rahayu, "Politik Gender Orde Baru: Tinjauan Organisasi Perempuan Sejak 1980-an. Prisma XXV/5, Mei 1996: 29-42.
  2. Metatesis adalah gejala perubahan (pertukararn) letak huruf, bunyi, atau sukukata dalam suatu kata (Kridalaksana, 1993:136). Misalnya rontal menjadi lontar, sapu<-->usap; dalam bahasa Jawa misalnya kelek<-->lekek 'ketiak'. Dalam bahasa Inggris ada flim<-->film, brid<-->bird (Jack Richards, John Platt, dan Heidi Weber, 1987: 176), aks<-->ask (Crystal, 1985: 194).
  3. Proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dalam bahasa-bahasa di Nusantara dirumuskan dalam hukum-hukum perubahan bunyi. Salah satunya adalah perubahan [w] dalam bahasa Jawa atau Jawa Kuno menjadi [b] dalam bahasa Melayu (Indonesia) (Slametmulyana, 1964; Wojowasito, 1965; Keraf, 1987). Misalnya awu-->abu, watuk-->batuk, sewelas-->sebelas, wulan-->bulan.
  4. Raja, sultan, adipati, bangsawan, pada zaman dahulu umumnya memiliki banyak istri dan selir. Misalnya, Paku Buana IV (Surakarta) mengumpuli 25 istri dan selir; Hamengku Buwono II (Ngayogyakarta Hadiningrat) menyimpan 33 istri dan selir. Tujuan memiliki banyak wanita adalah menghindari kejahatan seksual dan mencapai konsolidasi kekuasaan politik untuk mengesankan bahwa pemimpin itu lelaki luar biasa sakti mandraguna (super human). Periksa: G. Moedjanto, "Selir", Basis, Januari 1973; juga Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram (Yogyakarta: Kanisius, 1987).
  5. Tentang konsep degradasi harkat martabat gender feminin, baca: D. Jupriono, "Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki", FSU in the Limelight edisi nomor ini juga.
  6. Lih. Ruth Indiah Rahayu, Opcit., hal. 29-42. Dalam artikelnya, dijelaskan bahwa perempuan dan gerakannya telah lahir jauh sebelum kemerdekaan RI. Aktivitas pergerakan perempuan terus berjalan hingga mencapai puncaknya pada 1965. Sejak itu berlakulah proses domestifikasi (pe-rumah-an) "perempuan" di segala bidang, menjadi "wanita". Tetapi, bersamaan dengan itu, bermunculan juga berbagai organisasi "keras" perempuan bergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
  7. Pelesetan itu demikian. "Surga ada di bawah kaki ibu", katanya, "berlaku bagi seorang anak". Bagi seorang ayah, lain lagi, yaitu "Surga itu ada di antara kedua kaki ibu"; "Ooo ... itu sih nerakanya. Setannya ya kita-kita ini. Ha ha ha ...". Bahwa itu hanya kelakar, itu jelas. Tetapi, di sisi lain, ini mungkin saja juga karena tidak tahu (menyadari) bahwa yang mereka pelesetkan adalah sabda Rasul.